Senin, 03 Desember 2012

Dengan hati....


"Sabar dan bersabar, Allah sedang sangat mencintaimu saat ini dengan memberikan cobaan seperti ini. Allah ingin kita lebih dekat lagi dengan-Nya, mungkin selama ini ada dosa yang sengaja atau tidak sengaja kita lakukan. Jadi Allah ingin kita lebih dekat dengan-Nya untuk meminta ampunan-Nya."
(sedikit catatan kecil dari tangisan seorang istri yang pernah curhat dirumah).

Aku sedang memasak ketika temanku ini datang dengan wajah sedih dan air mata yang tidak bisa dia tahan telah mengalir di pipinya.

Katanya sambil menangis;

"Istri atau menantu yang "jahat" bila ia bisa melahirkan keturunan atau anak bagi keluarga suaminya maka semua kesalahannya dimasa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang bisa dengan mudah dima'afkan... Tapi hal itu tidak berlaku bagi istri atau menantu yang tidak dapat melahirkan keturunan atau anak. Meski sebaik apapun wanita tersebut dalam kehidupan rumah tangganya, apakah dia melakukan kesalahan atau tidak, apapun yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan yang fatal yang tidak dapat dimaafkan bagi suami dan keluarganya".
Ku kira, tidak ada satupun wanita didunia ini yang ingin mandul. Selayaknya naluri seorang ibu, pasti ada dalam diri setiap wanita. Jadi bila seorang istri tidak dapat melahirkan keturuan bagi suaminya apakah harus mendapatkan hinaan dan cemoohan?. Begitu sangat berdosakah wanita atau istri yang tidak bisa hamil dan melahirkan anak-anak, yang dia sendiri sangat mendambakan hal itu?. Begitu rendahkan martabat seorang istri dimata suami dan keluarga besarnya hanya karena ketidak mampuannya dalam melahirkan keturunan?.

Rasa sepi, terhina, tidak percaya diri dan kehilangan harapan sudah merampas semua senyuman dihati dan dibibirku. Apakah beban hati ini harus ditambah lagi dengan cara mereka yang selalu membanding-bandingkan keadaanku dengan wanita yang bisa melahirkan anak?.
Sakit....!!!!!
Luka hatiku yang belum sembuh dan masih bernanah, semakin bertambah parah dengan sayatan luka yang baru.
Sangat menyiksa jiwa dan melukai harga diriku...

Seandainya mereka berada diposisi yang sama denganku, apa yang akan mereka lakukan?.
Seandainya mereka mengalami apa yang aku alami saat ini, apakah mereka masih mampu bertahan ditengah-tengah cercaan dan hinaan?.
Seandainya mereka mau merasakan sedikit saja dari apa yang aku rasakan saat ini. Bukan hal yang mudah menjalani kehidupan sebagai istri yang tidak sempurna. 
Tak bisakah mereka menggunakan hati dalam menyikapi keadaanku saat ini?.
Tak bisakah mereka memahami kesedihanku dengan hati?.
Aku tidak minta dikasihani, yang kuminta adalah rasa pengertian.

Kalau boleh meminta, akupun tidak ingin terlahir dalam keadaan mandul dan menjadi terhina seperti ini..
Kalau saja boleh, akupun sangat ingin mempertanyakan kepada Tuhan, mengapa harus aku?.
Mengapa harus aku yang mengalami penderitaan seperti ini?.

Setelah semua beban dihatinya dia tumpahkan lewat kata-kata, diapun kembali menangis dan menangis.

Aku hanya bisa terdiam melihatnya menangis sedih dihadapanku.
Aku ingin mengatakan bahwa apa yang dia rasakan tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan tapi aku khawatir akan semakin membuat sedih hatinya dan merampas semua semangatnya.
Aku ingin mengatakan bahwa apa yang dia alami tidak sebanding dengan apa yang aku alami tapi aku khawatir akan membuatnya semakin cemas dan menghilangkan semua kepercayaan dirinya.

Akhirnya aku hanya bisa berkata, "Sabar dan bersabar, Allah sedang sangat mencintaimu saat ini dengan memberikan cobaan seperti ini. Allah ingin kita lebih dekat lagi dengan-Nya, mungkin selama ini ada dosa yang sengaja atau tidak sengaja kita lakukan. Jadi Allah ingin kita lebih dekat dengan-Nya untuk meminta ampunan-Nya."
Sebenarnya kata-kata ini lebih ingin menghibur diriku sendiri daripada ingin menghiburnya. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan dan kukatakan.
---------------
Artikel :  My Diary

Baca juga:
- Senyuman.
- Nasehat ibu kepada putrinya.
- Sabar, keajaiban seorang mu'min.
- Misteri Kapal Hantu di Dunia.
- Azdah al-Khaldah, kibaran jilbabnya menggetarkan musuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar