Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Mei 2015

Nikmat Tuhanmu Manakah yang Engkau Dustakan?


Nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?
Oleh: Ustadz Firanda Andirja MA

Allah tidak pernah mengacuhkanmu disaat banyak manusia mengacuhkanmu.

Allah tidak pernah bosan mendengarkan keluhanmu tatkala manusia bosan dan enggan untuk mendengarkan keluhanmu….

Allah tidak pernah meninggalkamu sendirian (jika engkau bersandar kepadanya) disaat manusia meninggalkanmu.

Allah tidak pernah merendahkanmu (jika kamu taat kepadanya) disaat banyak manusia merendahkanmu karena kurangnya harta dan kedudukanmu (karena kebanyakan manusia mengukur kehormatan seseorang dengan harta).

Allah selalu memaafkanmu jika engkau bertaubat, disaat manusia enggan memafkanmu dan terus mencelamu.

Allah tidak pernah bosan untuk engkau dekati (jika engkau bertaubat) meskipun telah berulang-ulang engkau bersalah kepadaNya, tatkala manusia langsung meninggalkamu dan menghinakanmu karena hanya satu kesalahanmu.

Allah menilai satu kebaikanmu menjadi 10 kali lipat hingga tiada batas dan hanya menilai satu kesalahanmu tetap sebagai satu kesalahan, tatkala manusia menganggap besar satu kesalahanmu yang kecil dan melupakan kebaikan-kebaikanmu.

Allah selalu memberi pertolongan disaat pertolongan manusia tidak bisa lagi diharapkan.

MAKA : Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan???? 
----------- 

Sumber: Diana Rosmawati 

My Diary

Kamis, 14 Mei 2015

Saat Engkau Tertidur Lelap



"Saat engkau tertidur lelap, boleh jadi pintu-pintu langit diketuk oleh puluhan doa yang memohon kebaikan untukmu. 
(Doa itu datang) dari si fakir yang pernah engkau tolong, 
dari orang lapar yang pernah engkau beri makan, 
dari orang sedih yang pernah engkau bahagiakan, 
dari orang yang pernah berpapasan denganmu dan kau berikan senyuman untuknya, 
atau dari orang terhimpit kesulitan yang telah engkau lapangkan.
Maka jangan pernah meremehkan sebuah kebajikan untuk selama-lamanya."

(Ibnul Qayyim A-Jauziyah)

-------------------


Artikel: My Diary

Berlindunglah Dari Panasnya Neraka Walau Dengan Separuh Kurma

Suatu hari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

(( مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانُ. فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ، وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ، وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَا يَرَى إِلاَّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ، فَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ ))

“Setiap kalian pasti akan diajak bicara oleh Robb-nya, dimana tidak ada penerjemah antara dia dengan Allah . Lalu dia menoleh ke sebelah kanannya, dia tidak melihat kecuali hasil dari apa yang telah dikerjakannya (di dunia). Dia pun menoleh ke sebelah kiri, dan yang terlihat hanyalah apa yang telah dikerjakannya (di dunia). Lalu dia melihat ke depan, dan yang ia lihat hanya neraka yang ada tepat di hadapannya. Karena itu, berlindunglah kalian dari api neraka walaupun dengan separuh kurma. Barangsiapa tidak memilikinya maka hendaklah dengan kata-kata yang baik” (Muttafaq alaihi)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
“Janganlah engkau meremehkan perbuatan baik, walaupun hanya menjumpai saudaramu dengan wajah yang berseri-seri." (HR. Muslim)

Kedua hadits diatas mengajari kita bahwa sebuah amalan tidak dinilai dari besar atau kecilnya, sedikit ataupun banyaknya. Karena semua ditentukan oleh kadar keikhlasan masing-masing pelaku. Sabda beliau “walaupun dengan separuh kurma” menunjukkan kasih sayang Allah yang luar biasa. Betapapun kecilnya sebuah amalan, ia tetap bermanfaat bagi pelakunya di akhirat kelak. Tak tanggung-tanggung amalan tersebut dengan idzin Allah dapat melindungi pelakunya dari api neraka. Padahal panasnya api neraka 70 kali lipat melebihi panasnya api dunia, panas yang luar biasa bukan?

Jadi… Jangan pernah meremehkan sebuah kebaikan sekecil apapun kebaikan itu. Karena kita tidak tahu dengan kebaikan mana Allah akan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.
---------------

Sumber: Ust. Aan Chandra Thalib

My Diary

Rabu, 13 Mei 2015

Hukum Buruk Sangka

Pertanyaan:
Apakah diperbolehkan bagi seseorang untuk menuduh orang lain dalam agama dan akhlaknya dengan tuduhan palsu, seperti ia berkata dalam hatinya; "Jangan-jangan ia berbuat baik agar ia bisa dekat denganku, atau supaya aku mencintainya", padahal ia tidak seperti itu, tujuannya agar orang-orang di sekitarnya menjadi benci.

Jawaban:
Berburuk sangka terhadap seorang muslim adalah haram.
Allah Subhanahu waTa'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan). Karena sebagian dari purbasangka itu dosa." (QS. Al-Hujarat: 12)

Dan lebih besar dari itu adalah menuduh seorang muslim dengan sesuatu yang tidak dia lakukan,
Firman Allah Subhanahu waTa'ala: "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat. Maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab: 58)

Ibnu Katsir berkata; "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat" artinya: menuduh mereka dengan sesuatu padahal mereka tidak pernah melakukannya. Menuduh seorang muslim tidak diperbolehkan dengan alasan apapun, sebab Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah mengancam dengan ancaman keras sebagaimana dikeluarkan oleh Ahmad dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa berkata tentang seorang muslim sesuatu yang tidak ada pada dirinya, maka Allah akan memberinya minum dari bubur api neraka, sampai ia keluar dari tuduhannya, tapi ia tidak bisa keluar, dan bubur api neraka itu terbuat dari nanah busuk penghuni neraka." Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani.

Kepada mereka yang telah melakukan dosa besar ini agar segera bertaubat kepada Allah Subhanahu waTa'ala dan meminta ma'af kepada yang bersangkutan, karena bertaubat dari dosa yang berkaitan dengan hak-hak anak adam, maka syaratnya adalah meminta ma'af kepadanya.
Wallahua'lam.
-------------------

Sumber: Majalah Qiblati, edisi 09 tahun VII, rubrik Konsultasi Agama dan Keluarga Bersama Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi, hal: 59

My Diary

Senin, 24 November 2014

Ceramah Agama Islam: Wanita Mulia Penghuni Surga

Penceramah: Ustadz Aunur Rofiq ghufran. Lc

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة “
Dunia itu adalah keindahan dan kesenangan dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR Muslim)

 Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan wanita yang cantik, wanita yang muda/ tua, wanita yang hitam/ putih, tetapi beliau mengatakan “wanita yang shalihah“. Wanita yang shalihah adalah kunci kebahagiaan dalam satu keluarga, bahkan juga kunci kebahagiaan dalam suatu masyarakat.






Sumber: Youtube

Artikel: My Diary


Selasa, 11 November 2014

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Tidak Mengharamkan yang Halal


Ada diantara kita yang bertanya, mengapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak memboleh Fathimah dipoligami?

Ketahuilah wahai saudara/i ku, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah mengharamkan yang halal. Kenapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menolak putrinya, Fathimah di poligami oleh Ali? Inilah alasannya.

Pada suatu hari Ali bin Abi Thalib radhiallahu'anhu meminang putri Abu Jahal. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui hal itu, beliau marah besar.

Diriwayatkan dari Miswar bin Makhramah radhiallahu'anhu, dia pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dari atas mimbar:

"Sesungguhnya keluarga Bani Hasyim bin Mughirah meminta restu kalau mereka akan menikahkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Tentu saja aku tidak merestui. aku  tidak merestui, sekali lagi aku tidak merestui kecuali jika Ali bin Abi Thalib berkenan menceraikan putriku terlebih dahulu, kemudian menikahi putri mereka tersebut. Karena putriku adalah bagian dari diriku, apa yang mengganggunya akan menggangguku dan apa yang menyakitinya akan menyakitiku."[1]

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Muslim disebutkan:
"Aku bukannya ingin mengharamkan yang halal dan tidak juga menghalalkan yang haram. Demi Allah, putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak akan berkumpul dalam satu tempat dengan putri musuh Allah selamanya."

Disebutkan juga dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Muslim;
'Dari Miswar bin Makhramah, 'Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu'anhu meminang putri Abu Jahal. Waktu itu dia telah menikah dengan Fathimah radhiallahu'anha. Ketika Fathimah mendengar hal itu, dia pun mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata kepada beliau, 'Orang-orang mengatakan bahwa engkau tidak marah untuk membela putri-putrimu. Kali ini Ali bermaksud menikahi putri Abu Jahal.''

Miswar berkata; 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun langsung bangun. Aku mendengarnya mengucapkan syahadat. Lalu beliau bersabda;
"Amma ba'du, aku nikahkan Abu Al-Ash bin Ar-Rabi'. Dia lalu menceritakan kepadaku dan membenarkanku. Sesungguhnya Fathimah adalah putri Muhammad, darah dagingku. Aku tidak suka kalau mereka menyakitinya. Dia, demi Allah, putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam tidak akan berkumpul di bawah seorang laki-laki dengan putri musuh Allah Selamanya."

Miswar berkata; 'Ali pun membatalkan pinangannya.[2]

Jadi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengharamkan poligami.
Beliau tidak ingin kalau putri dari musuh Allah menjadi bagian dalam keluarganya.
_______________
footnote:
[1] Diriwayatkan oleh Muslim (94) (2449) dalam kitab Min Fadhaa'il as-Shahabah, bab Keutamaan Fathimah binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
[2] Imam An-Nawawi berkata; 'Mengenai hadits ini, para ulama mengatakan bahwa haram hukumnya menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalla ketika masih hidup dengan cara apapun yang dapat menyebabkan beliau tersakiti meskipun hukum asal perbuatan itu mubah.' Namun pendapat ini dibantah oleh ulama yang lain. Mereka berpendapat bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberitahukan bahwa Ali boleh saja menikah dengan putri Abu Jahal dengan sabdanya; "Aku tidak mengharamkan yang halal." Akan tetapi beliau melarang untuk mengumpulkan keduanya karena dua sebab yang tercantum dalam hadits tersebut, Pertama: perbuatan itu akan menyakiti Fathimah dan akan membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun tersakiti, sehingga celakalah orang yang menyakiti beliau. Maka beliau melarang hal itu karena beliau sangat menyayangi Ali dan Fathimah. Kedua: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam khawatir akan terjadi fitnah atas diri Fathimah disebabkan oleh rasa cemburu. (Muslim bisyarhi Imam An-Nawawi, 16/4)

Sumber: Buku Wanita Pilihan di Zaman Rasulullah, karangan: Syaikh Muhammad Hasan, Terbitan: Pustaka As-Sunnah, hal: 419-420

Artikel: My Diary


BANGUN, HAI ABU THURAB (BAPAKNYA ABU)


Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sangat menyayangi Ali bin Abi Thalib dan Fathimah radhiallahu'anhuma. Sehingga pada suatu hari Rasulullah mendo'akan Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berseru, "Ya Allah, mereka adalah keluargaku."[1] Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdo'a, "Ya Allah, mereka adalah keluargaku, hilangkanlah dari mereka kotoran dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya."[2]

Pada suatu hari terjadi pertengkaran ringan antara Ali dan Fathimah sebagaimana biasa terjadi pada pada pasangan suami istri. Ali pun marah dan pergi meninggalkan rumah menuju masjid. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pun menyelesaikan persoalan mereka dengan penuh kebijaksanaan dan kasih sayang.

Berikut kisahnya;

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mendatangi rumah Fathimah dan tidak menjumpai Ali di dalamnya. Beliau lalu bertanya kepada Fathimah, "Di mana putra pamanmu?" Fathimah menjawab, 'Telah terjadi sesuatu antara aku dan dia lalu memarahiku dan keluar sehingga tidak tidur siang di sini.' Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berkata kepada seorang sahabat, "Carilah di mana dia!" Kemudian sahabat itu kembali dan berkata, 'Wahai Rasulullah, Ali sedang tidur di dalam masjid.' Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam lalu pergi ke masjid untuk menemuinya, sementara Ali tengah berbaring dengan sorban yang terjatuh dari sisinya sehingga badannya dipenuhi debu. Kemudian Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam membersihkan debu darinya seraya berkata, "Bangun, hai Abu Thurab! Bangun, hai Abu Thurab."[3]

Dengan sentuhan lembut dari Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan ucapan beliau yang halus, Ali pun melupakan segala sesuatu yang terjadi antara dia dan Fathimah.
_______________
footnote:
[1] Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani dalam kitab Al-Irwa' (6/206)
[2] Diriwayatkan oleh Muslim, (32) (2404) dalam kitab Min Fadhaa'il as-Shahabah
[3] Diriwayatkan oleh Muslim, (38) (2409) dalam kitab Min Fadhaa'il as-Shahabah

Sumber: Buku Wanita Pilihan di Zaman Rasulullah, Karangan: Syaikh Muhammad Hasan, Bab: Fathimah binti Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, hal: 418-419, Terbitan: Pustaka As-Sunnah

Artikel: My Diary


Sabtu, 29 Maret 2014

Aisyah Kalah oleh Hafshah


Kisah ini adalah salah satu kisah yang paling ana suka diantara kisah-kisah cemburunya Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu'anha.

Kisah ini menceritakan tentang kalahnya Aisyah radhiallahu'anha dari Hafshah radhiallahu'anha. Kita tahu bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sangat mencintai Aisyah dibandingkan istri-istrinya yang lain. Hal itu pun telah diketahui oleh khalayak umum. Dan dikarenakan rasa cinta Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam kepada Aisyah maka dalam perjalanan yang didampingi oleh Aisyah dan Hafshah, Rasulullah lebih sering mengunjungi tenda Aisyah (yang ada diatas unta) dari pada Hafshah. Karena hal tersebut Hafshah lalu mengajukan ingin bertukar tempat dengan Aisyah. Di karenakan Aisyah sangat lugu dan jujur, dia pun menyetujui keinginan Hafshah, maka dimulailah kisah yang lucu dan penuh hikmah ini.

"Diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu'anah, dia berkata: Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam apa bila hendak melakukan perjalanan, beliau selalu mengadakan undian di antara istri-istrinya, lalu keluarlah undian tersebut untuk Aisyah dan Hafshah sehingga mereka berdua berangkat bersama beliau. Pada suatu malam, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berjalan bersama Aisyah untuk bercakap-cakap dengannya. Suatu kali berkatalah Hafshah kepada Aisyah:  'Maukah kamu malam ini menunggangi untaku dan aku menunggangi untamu sehingga kamu dapat melihatku, begitu juga aku.' Aisyah menjawab: 'Baiklah.' Maka Aisyah lalu menunggangi unta milik Hafshah dan Hafshah menunggangi unta Aisyah. Lalu datanglah Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengahampiri unta Aisyah yang ditunggangi oleh Hafshah kemudian mengucapkan salam dan berjalan bersamanya sampai mereka turun kembali. Tiba-tiba Aisyah merasa kehilangan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan merasa cemburu. Ketika mereka turun berhenti, mulailah Aisyah menendangkan kakinya ke tumbuh-tumbukan izkhir yang harum baunya sambil berkata: 'Ya Tuhanku! Semoga ada kalajengking atau ular yang mengigitku sedang aku tidak dapat mengatakan sesuatu apapun kepada Rasul-Mu." (HR. Muslim no. 2445, dalam kitab Fadhaa'ilu as-Shahaabah, bab Fadhaa'ilu Aisyah radhiallahu'anha)

Seperti diketahui bahwa tidak ada satupun dari istri-istri Rasulullah yang dapat menyaingi rasa cinta Rasulullah terhadap Aisyah, namun kali ini Aisyah harus mengalah karena taktik Hafshah yang juga ingin mendapatkan keberkahan yang sama dari Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Dan dikarenakan kekalahannya ini, Aisyah radhiallahu'anha sampai rela memasukkan kakinya kedalam semak agar digigit kalajengki atau ular agar Aisyah memiliki alasan untuk bisa memanggil Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Begitulah, rasa cemburu yang masuk ke hati para Ummahatul Mukminin, namun Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberi mereka kemampuan untuk bisa mengontrol rasa cemburu itu hingga tidak mencelakakan madunya. Dan kecemburuan diantara istri itu hal yang biasa terjadi pada rumah tangga yang berpoligami. Rasa cemburu itu biasa dan tidak perlu dicela.

Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Kalaulah Bukan Karena Allah Menutupi Aib-Aib Kita
- Hafshah binti Umar radhiallahu'anha
- Lagi-Lagi Ulama Syi'ah Terbongkar Kebodohannya
- Kisah Sahabat yang Memuliakan Tamu Rasulullah
- Saat Rasulullah Pergi
- Haramnya Melakukan TAKHBIB (menggoda) Istri Orang Lain
- Renungan Cinta Untuk Para Istri
- Nasehat Kepada Anak Perempuan Saat Pernikahannya
- Nikah Mut'ah Dengan Adik Sendiri di Hotel
- Sesatnya Syi'ah: Khomeini Mut'ah dengan Anak Kecil

Minggu, 23 Maret 2014

Kalaulah Bukan Karena Allah Menutupi Aib-Aib Kita


Pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.” Maka berangkatlah Musa ‘alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan lapar.

Nabi Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur ‘alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’… wal bahaaim ar rutta’… wal masyaayikh ar rukka’…..”

Setelah itu langit tetap saja terang benderang… matahari pun bersinar makin kemilau… (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul).

Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi … asqinaa….”

Allah Ta'ala pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian…”

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… keluarlah ke hadapan kami…. karena engkaulah hujan tak kunjung turun…”

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri… maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia… saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud…..

Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku… Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”

Maka hatinya pun gundah gulana… air matanya pun menetes….. menyesali perbuatan maksiatnya… sambil berkata lirih, “Ya Allah… Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun… selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku…”

Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan… semakin lama semakin tebal menghitam… dan akhirnya turunlah hujan.

Musa pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.”

Allah Ta'ala berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”

Musa berkata, “Ya Allah… Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.”

Allah Ta'ala berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka ‘aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”

(Kisah ini dikutip dari buku berjudul “Fii Bathni al-Huut” oleh Syaikh DR. Muhammad Al ‘Ariifi, hal. 42)

Subhaanallah… Kalaulah bukan karena Allah menutupi aib-aib kita…

Sumber: Mulim.co.id
------------------

My Diary

Baca Juga:
- Hafshah binti Umar radhiallahu'anha
- Jadilah Pema'af
- Nasehat Indah
- Senyuman
- Kenangan Umrah di Madinah
- Berbakti dan Mengharapkan Ridho Suami Berbalas Pahala
- Haruskan??
- Danau Tiberias dan Rahasia Dajjal
- Kisah Muallaf Seorang Wanita Karena Celana Dalam
- Hanzhalah bin Abi Amir, Seorang Syahid yang Dimandikan Malaikat
- Sepenggal Cerita Antara Muslimah Perancis Bercadar dengan Muslimah Imigran Arab tak Berjilbab

Senin, 17 Maret 2014

Jadilah Pema'af


Bismillahirrahmanirrahim...

Firman Allah ta'ala,

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (QS: Al-A'raf Ayat: 199)

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam sedang duduk, tiba-tiba beliau tertawa sehingga tampaklah gigi-gigi serinya.

Maka sahabatnya Umar Radiallahu'anhu. kebingungan dan bertanya, “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, apakah yang membuatmu tertawa?”

Beliau menjawab, “Ada dua lelaki dari umatku yang dikumpulkan di hadapan Rabbul Izzah, Allah Ta'alla.


Salah satu di antaranya berkata, ‘Wahai Rabb, ambilkanlah hakku yang dizhalimi oleh orang ini!’

Maka Allah Ta'alla berfirman, 'Kembalikan hak saudaramu yang telah engkau zhalimi!’

Orang itu berkata, ‘Wahai Rabb, tidak ada lagi kebaikan yang tersisa.’

Yang seorang lagi berkata, ‘Wahai Rabb, biarlah dia menanggung sebagian dari dosa-dosaku!’

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam mencucurkan air matanya, kemudian bersabda, “Sungguh, hari itu adalah hari yang berat. Pada hari itu manusia perlu dipikulkan dosa-dosanya.”

Maka Allah Ta'alla berfirman kepada orang yang dizhalimi itu, “Angkatlah matamu dan perhatikanlah surga-surga itu!”

Orang itu berkata, “Wahai Rabb, aku melihat kota-kota dari perak dan istana-istana emas yang ditaburi mutiara. Untuk nabi, orang shaddiq, atau syahid yang mana semua ini?”

Allah Ta'alla berfirman, “Ini semua untuk siapa saja yang membayar harganya.”

Orang itu berkata, “Wahai Rabb siapa pula yang memiliki (harga)nya?”

Allah berfirman, “Engkau memilikinya.”

“Dengan apa, wahai Rabb?” tanyanya.

“ Dengan pemberian maafmu kepada saudaramu.”

“Wahai Rabb, aku telah memaafkannya.”

Allah Ta'alla berfirman, “ Peganglah tangan saudaramu itu, lalu bawalah ia memasuki surga.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda, "IttaquLLaha wa ashlihuu dzaata bainikum, fa innaLLaha ta’ala yushlihu bainal mu’miniina yaumal qiyamati."
(“ Hendaklah kalian bertaqwa kepada Allah dan memperbaiki hubungan di antara sesama kalian, karena sesungguhnya Allah memperbaiki hubungan di antara orang-orang yang beriman pada hari kiamat.”)


(HR. Hakim dari Anas bin Malik Radiallahu anhu)


Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Surat Cinta untuk Pembenci Arab Saudi
- Saat Hidayah Menyapa
- Karena Allah yang Menyuruhmu!!
- Jangan Tunda Taubatmu!!
- Bila Kalian Mengetahui, Jawablah Adzan itu
- Umar bin Khattab radhiallahu'anhu
- Renungan Malam sang Ibu

Sabtu, 15 Maret 2014

Saat Hidayah Menyapa

Terbukanya hati sesorang itu, merupakan milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata...

Allah Berfirman:
"Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkanya." (QS. Yusuf: 103)

Ketika hidayah belum menyapamu...
Sanggupkah engkau membelinya...??

Masalah hati orang menerimanya atau tidak... 

Itu adalah hak Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata... 
Dan tidak ada orang yang bisa campur tangan dalam urusan itu...

Ketika engkau mendambakan hidayah...
Sudahkah engkau memintanya...??

Empat hal yang di mohon dan di minta Nabi Shalallahu 'alahi wa sallam kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala...
Ya Allah. Aku mohon kepada Engkau petunjuk... 

Aku mohon kepada Engkau ketakwaan...
Aku mohon kepada Engkau agar mampu untuk menjaga kehormatan diriku...
Dan aku mohon kepada Engkau Ya Allah akan kecukupan... [1]

Ketika hidayah menyapamu...
Sanggupkah engkau mempertahankanya...??

Sesungguhnya Rasul kita Shalallahu'alahi Wa Sallam telah mengabarkan akan suatu zaman...
Akan ada hari-hari kesabaran... Orang yang berpegang kepada agamanya seperti memegang bara api... [2]

"ia panas... Tapi harus di pegang... Karna bila ia lepaskan... Itu menjadi api neraka untuknya...
"ia panas... Namun harus segera ia pegang karna itu kebahagian untuk hidupnya di dunia dan akhirat..."

Maka Rasulallah Shalallahu "alahi Wa sallam memberikan kabar gembira... Bagi mereka yang kokoh... Tegar... Memegang sunnah Rasulallah... Di zaman seperti ini...

Beliau bersabda: orang yang berpegang kepada sunnahku di hari itu.. Mendapatkan 50 Shahabat yang mengamalkan sunnah tersebut... [3]


Ketika hidayah belum menyapamu... Sanggupkah engkau membelinya...??
Ketika mendambakan hidayah... Sudahkah memintanya...??
Ketika hidayah menyapa hatimu...
Maka sanggupkah engkau menjaganya...??
 


_________
footnote:
[1] (HR. Muslim. No 6842)

[2] Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda; "Akan datang suatu zaman dimana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api." (H.R Tirmidzi)
[3] Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitab al-Fitan wal Malahim, no. 4333, bahwa Rasulullah Shallallahu'aliahi wasallam bersabda ketika menafsirkan ayat “alaikum anfusakum” (QS. al-Maidah: 105): “Bahkan perintahkanlah oleh kamu sekalian untuk berbuat amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga jika engkau telah melihat manusia mentaati sifat kikir, hawa nafsu telah liar diumbar, dunia diutamakan, dan setiap orang yang mempunyai pendapat (pemikiran) telah bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah kalian menjaga diri kalian sendiri dan meninggalkan orang-orang awwam, karena sungguh setelah itu akan ada hari-hari (yang sulit dan berat)(sehingga karena sulit dan beratnya) orang yang sabar (di dalam memegang kesepakatan atas kebenaran) ibarat menggenggam bara api. Orang yang beramal (pada zaman itu, mendapatkan pahala) seperti pahala lima puluh kalinya orang yang beramal diantara kamu sekalian.”
Dalam riwayat lain ada tambahan,
"Para shahabat ketika itu bertanya kepada Rasulullah, “Lima puluh kalinya kami atau mereka?” Rasulullah menegaskan, “Bahkan lima puluh kalinya kamu sekalian (yakni para shahabat).”

Sumber: Saat Hidayah Menyapa (Youtube)
--------------

Artikel: My Diary

Baca juga:
- Karena Allah yang Menyuruhmu!! 
- Jangan Tunda Taubatmu!!
- Ceramah Singkat; Adakah Bid'ah Hasanah? - Ustadz Abu Yahya Badrussalam, Lc
- Debat Ilmiah Asatidzah Hang FM Batam Dgn ASWAJA
- Istri Rasulullah, Zainab bint Jahsy
- Istri yang 'Sangat' Dicintai Suaminya
- Ummul Mukminin Aisya radhiallahu 'anha, Cemerlang Menghadapi Fitnah
- Ungkapan Cinta dan Kecewa
- Mengapa Aku Harus Menikahimu?

Karena Allah yang Menyuruhmu!!


Untukmu ukhti Muslimah, kemana akan kau bawa dirimu...??
kepada gemerlapnya dunia...??
Gemilaunya harta...??
atau ketampanan sesorang pria...??
Walaupun kau harus membuka hijabmu demi mendapatkan semua apa yang kau inginkan??

Maka kehinaan yang kau dapatkan!!

Wahai saudari muslimah...

Siapa kah yang menyuruhmu untuk berjilbab...??

Untukmu ukhti muslimah, kemanakah kau akan bawa dirimu...??
Kepada kemulian jiwa..??
Kepada keridhaan sang pencipta...??
atau mulianya menjadi bidadari surga...??
Walaupun hinaan dan cacian yang harus kau terima demi menjaga hijabmu yang telah di syari'atkan oleh agama, maka kebahagiaan yang kau dapatkan!!

Katakan tidak pada gemerlapnya dunia!!
Jika hijabmu harus terlepas karenanya..
 

Katakan tidak pada kemilaunya harta!!
Jika hijabmu harus menjadi tebusannya...
Karena hijabmu adalah benteng kemuliaan dirimu...

Bawasanya yang menyuruhmu untuk berjilbab...

yang menyuruhmu berbusana muslimah...
yang menyuruhmu ialah Allah dan Rasul-Nya...
dan konsekwensi kita sebagai seorang muslim maupun muslimah wajib taat pada Allah Ta'ala....!!

Karena Allah yang menciptakan kita...
Allah yang memberikan rizki pada kita...
Allah yang memberikan segalanya pada kita..
Al-Quran yang menyuruh kita untuk berjilbab...
Allah yang menciptakan kita yang menyuruh kita untuk berjilbab!!

"Hai Nabi katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal, karena itu mereka tidak di ganggu dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang." (QS. Al-Azhab: 59)

Jika sesorang manusia (wanita muslimah)...
Tidak berbusana muslimah.. Tidak berjilbab..
Maka manusia akan rusak dan hancur.. 

Akan binasa...!!

Setiap wanita tidak ada udzur (tidak ada alasan) untuk tidak memakai busana muslimah...!!!


(dikutip dari jeda Radio Rodja 756 AM)

Artikel : My Diary

Baca Juga:
- Bukan untuk Memberatkan Kalian
- Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam Dibenci Karena Aqidahnya
- Sikap Yahudi Bila Diajak Masuk Islam
- Jilbabku, Penutup Auratku
- Kemuliaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu'anhu
- Ta'ati Suamimu, Surga Bagimu
- Dampak Buruk Nikah Mut'ah
- Nasehat untuk Putriku

Jangan Tunda Taubatmu!!


Luqman berkata kepada putranya, “Wahai anakku, janganlah kamu mengakhir-akhirkan taubat karena kematian itu akan datang secara tiba-tiba.”

Barang siapa tidak bersegera untuk bertaubat dengan menanti-nantikan/menunda-nunda, maka ia berada di antara dua bahaya besar:

Pertama, bertumpuknya kegelapan pada hatinya disebabkan kemaksiatan sehingga menjadi kotoran dan tabiat, dan tidak dapat dihapus.

Kedua, segera terkena penyakit atau tiba-tiba meninggal, lalu tidak dapat menyibukkan diri untuk menghapus dosa. Karena itu, dikatakan juga bahwa kebanyakan teriakan penghuni neraka adalah dengan mengatakan, “Betapa ruginya aku akibat menanti-nanti/menunda-nunda (Taubat)}.”
{Al-Ihya’,4/12}

Maka dari itu wahai orang-orang yang berbuat dosa, berhati-hatilah terhadap kematian dan berlombalah berbuat kebaikan, serta gunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu {Shohih: Shohih aljami’,1088. Al-Mustadrok,4/306}, Karena kematian itu akan datang tiba-tiba.

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati.”
{Terjemah QS.Luqman: 34}

Maka cepat-cepatlah bertaubat dan segeralah kembali kepada Allah.
“Karena kamu tidak tahu jika malam telah gelap, apakah kamu akan hidup sampai waktu fajar…”

{Dikutip dari Buku "Ahbaabullaah", edisi terjemah; “40 Karakteristik Mereka Yang Dicintai Alloh” Asy-Syeikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi Al-Kholafi, Pustaka Darul Haq, hal.21.}


Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Bilal bin Rabbah, Suara Emas dari Ethiopia 
- Kidung Agung Membuatku Masuk Islam 
- Ia Datang Bukan Untuk Bertanya 
- Syaikh bin Baz dan Seorang Pencuri 
- Kisah Kalung Permata dan Gadis Cantik
- Canda
- Mengapa Rasulullah Menikahi Zainab binti Jahsy?
- Do'a Dapat Mengubah Takdir

Minggu, 23 Februari 2014

Syaikh bin Baz dan Seorang Pencuri


Oleh: Syaikh Mamduh Farhan al Buhairy

Salah seorang murid Syaikh ‘Ibn Utsaimin rahimahullah menceritakan kisah ini kepadaku. Dia berkata: “Pada salah satu kajian Syaikh Utsaimin rahimahullah di Masjidil Haram, salah seorang murid beliau bertanya tentang sebuah masalah yang didalamnya ada syubhat, beserta pendapat dari Syaikh Bin Baz rahimahullah tentang masalah tersebut. Maka Syaikh Utsaimin menjawab pertanyaan penanya serta memuji Syaikh bin Baz rahimahullah.

Di tengah-tengah mendengar kajian, tiba-tiba ada seorang lelaki dengan jarak kira-kira 30 orang dari arah sampingku kedua matanya mengalirkan air mata dengan deras, dan suara tangisannya pun keras hingga para muridpun mengetahuinya. Di saat Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah selesai dari kajian, dan majelis sudah sepi aku melihat kepada pemuda yang tadi menangis. Ternyata dia dalam keadaan sedih, dan bersamanya sebuah mushhaf.

Akupun lebih mendekat hingga  kemudian aku bertanya kepadanya setelah kuucapkan salam: “Bagaimana kabarmu wahai akhi, apa yang membuatmu menangis?”
Maka diapun menjawab dengan bahasa yang mengharukan: “Jazakallahu khairan.”
Akupun mengulangi pertanyaanku sekali lagi: “Apa yang membuatmu menangis akhi?”
Diapun menjawab dengan tekanan suara yang haru: “Tidak ada apa-apa, sungguh aku telah ingat Syaikh bin Baz, maka akupun menangis.”
Kini menjadi jelas bagiku dari penuturannya bahwa dia dari Pakistan, sedang dia mengenakan pakaian orang Saudi.

Dia meneruskan keterangannya: “Dulu aku mempunyai sebuah kisah bersama Syaikh bin Baz rahimahullah, yaitu sepuluh tahun yang lalu aku bekerja sebagai satpam pada salah satu pabrik batu bata di kota Thaif. Suatu ketika datang sebuah surat dari Pakistan kepadaku yang menyatakan bahwa ibuku dalam keadaan kritis, yang mengharuskan operasi untuk penanaman sebuah ginjal. Biaya operasi tersebut membutuhkan tujuh ribu Riyal Saudi (kurang lebih 17,5 juta Rupiah). Jika tidak segera dilaksanakan operasi dalam seminggu, bisa jadi dia akan meninggal. Sedangkan beliau sudah
berusia lanjut. Saat itu, aku tidak memiliki uang selian seribu Riyal, dan aku tidak mendapati orang yang mau memberi atau meminjami uang. Maka akupun meminta kepada perusahaan untuk memberiku pinjaman, Mereka menolak, Aku menangis sepanjang hari.

Dia adalah ibu yang telah merawatku dan tidak tidur karena aku. Pada situasi yang genting tersebut, aku memutuskan untuk mencuri pada salah satu rumah yang bersebelahan dengan perusahaan pada jam dua malam. Beberapa saat setelah aku melompati pagar rumah, aku tidak merasa apa- apa kecuali para polisi tengah menangkap dan melemparkanku ke mobil mereka. Setelah itu duniapun terasa menjadi gelap. Tiba-tiba, sebelum shalat subuh para polisi mengembalikanku ke rumah yang telah kucuri. Mereka memasukkanku ke sebuah ruangan kemudian pergi.

Tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghidangkan makanan seraya berkata: “Makanlah, dengan membaca bismillah!” Aku pun tidak mempercayai apa yang tengah kualami. Saat adzan shalat subuh, mereka berkata kepadaku, “Wudhu’lah untuk shalat!” Saat itu rasa takut masih menyelimutiku. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang sudah lanjut usia dipapah  salah seorang pemuda masuk menemuiku. Kemudian dia memegang tanganku dan mengucapkan salam kepadaku seraya berkata: “Apakah engkau sudah makan?” Akupun menjawab: “Ya, sudah.”

Kemudian dia memegang tangan kananku dan membawaku ke masjid bersamanya. Kami shalat subuh. Setelah itu aku melihat lelaki tua yang memegang tanganku tadi duduk di atas kursi di bagian depan masjid, sementara jama’ah shalat dan banyak murid mengitarinya. Kemudian syaikh tersebut memulai berbicara menyampaikan sebuah kajian kepada mereka. Maka akupun meletakkan tanganku diatas kepalaku karena malu dan takut. Ya, Alloh, apa yang telah aku lakukan? Aku telah mencuri di rumah Syaikh bin Baz rahimahullah. Sebelumnya aku telah mendengar nama beliau, dan beliau telah terkenal di negeri kami, Pakistan.

Setelah Syaikh bin Baz selesai dari kajian, mereka membawaku ke rumah sekali lagi. Syaikh pun memegang tanganku, dan kami sarapan pagi dengan dihadiri oleh banyak pemuda. Syaikh mendudukanku di sisi beliau.
Di tengah makan beliau bertanya kepadaku: “Siapakah namamu?”
Kujawab: “Murtadho.”
Beliau bertanya lagi: “Mengapa engkau mencuri?”
Maka aku ceritakan kisah ibuku.
Beliau berkata: “Baik, kami akan memberimu 9000 Riyal.”
Aku berkata kepada beliau: “Yang dibutuhkan Cuma 7000 Riyal.”
Beliau menjawab: “Sisanya untukmu, tetapi jangan lagi mencuri wahai anakku.”

Aku mengambil uang tersebut, dan berterima kasih kepada beliau dan berdoa untuk beliau. Aku pergi ke Pakistan, lalu melakukan operasi untuk ibuku. Alhamdulillah, beliau sembuh. Lima bulan setelah itu, aku kembali ke Saudi, dan langsung mencari keberadaan Syaikh bin Baz rahimahullah. Aku pergi rumah beliau. Aku mengenali beliau dan beliaupun mengenali aku. Kemudian beliaupun bertanya tentang ibuku.

Aku berikan 1500 Riyal kepada beliau, dan beliau bertanya, “Apa ini?”
Kujawab: “Itu sisanya.”
Maka beliau berkata: “Ini untukmu.”
Kukatakan: “Wahai Syaikh, saya memiliki permohonan kepada anda.”
Maka beliau menjawab: “Apa itu wahai anakku?”
Kujawab: “Aku ingin bekerja pada anda sebagai pembantu atau apa saja, aku berharap dari anda wahai Syaikh, janganlah menolak permohonan saya, mudah-mudahan Allah menjaga anda.”
Maka beliau menjawab: “Baiklah.”
Akupun bekerja di rumah Syaikh hingga wafat beliau.

Selang beberapa waktu dari pekerjaanku di rumah Syaikh, salah seorang pemuda yang mulazamah kepada beliau memberitahuku tentang kisahku ketika aku melompat ke rumah beliau hendak mencuri di rumah Syaikh.

Dia berkata: “Sesungguhnya ketika engkau melompat ke dalam rumah, Syaikh bin Baz saat itu sedang shalat malam, dan beliau mendengar sebuah suara di luar rumah. Maka beliau menekan bel yang beliau gunakan untuk membangunkan keluarga untuk shalat fardhu saja. Maka mereka terbangun semua sebelum waktunya. Mereka merasa heran dengan hal ini. Maka beliau memberitahu bahwa beliau telah mendengar sebuah suara. Kemudian mereka memberi tahu salah seorang menjaga keamanan, lalu dia menghubungi polisi. Mereka datang dengan segera dan menangkapmu.

Tatkala Syaikh mengetahui hal ini, beliau bertanya: “Kabar apa?”
Mereka menjawab: “Seorang pencuri berusaha masuk, mereka sudah menangkap dan membawanya ke kepolisian.”
Maka Syaikhpun berkata sambil marah: “Tidak, tidak, hadirkan dia sekarang dari kepolisian, dia tidak akan mencuri kecuali dia orang yang membutuhkan.”
Maka di sinilah kisah tersebut berakhir.

Aku katakan kepada pemuda tersebut, "Sungguh matahari sudah terbit, seluruh umat ini terasa berat, dan menangisi perpisahan dengan beliau. Berdirilah sekarang, marilah kita sholat dua rakaan dan berdoa untuk Syaik rahimahullah. Mudah-mudahan Allah merahmati Syaikh bin Baz dan Ibnu Utsaimin dan menempatkan keduanya di keluasan surga-Nya. Aamiin."

Dikutip dari Majalah Qiblati edisi 02 tahun III (11-2007M/ 10-1428H)
-----------

Artikel: My Diary

Baca Juga:

Selasa, 18 Februari 2014

Rumah Tangga Nabawi


Uraian tentang rumah tangga Nabawi ini dapat kita paparkan menurut masing-masing dari istri-istri Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

1. Khadijah binti Khuwailid
Rumah tangga Nabawi yang dibangun di Makkah sebelum hijrah bersama Khadijah binti Khuwailid. Rasulullah menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun, sedangkan Khadijah sendiri berumur 40 tahun. Khadijah adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah. Selama membina rumah tangga dengan Khadijah, Rasulullah tidak menikah dengan wanita lain. Dari Khadijah inilah Rasulullah mendapatkan putra dan putri. Tapi tidak seorang pun dari putra Rasulullah yang hidup. Adapun putri-putri Rasulullah dari Khadijah adalah; Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fathimah. Zainab dinikahi oleh anak bibinya, Abul Ash bin Ar-Rabi', sebelum hijrah. Sedangkan Ruqayyah dan Ummu Kultsum dinikahi oleh Utsman bin Affan, tidak secara bersamaan. Sedangkan Fathimah dinikahi oleh Ali bin Abu Thalib pada waktu antara Perang Badr dan Perang Uhud. Dari pernikahan Fathimah dan Ali ini lahir Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum.

Sebagaimana yang sudah diketahui, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berbeda dengan umatnya, dengan diperbolehkan bagi beliau untuk menikahi wanita lebih dari empat orang. Banyak tujuan dari pernikahan Rasulullah ini. Wanita yang pernah terikat perkawinan dengan Rasulullah ada tiga belas orang. Sembilan orang meninggal dunia sepeninggal beliau, dua orang meninggal dunia saat beliau masih hidup, yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah, ibu para fakir miskin. Dan dua istri yang belum pernah dijamah Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

2. Saudah binti Zam'ah
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menikahinya pada bukan Syawal tahun kesepuluh dari nubuwah, tepatnya beberapa hari setelah Khadijah meninggal dunia. Sebelumnya Saudah menikah dengan sepupunya sendiri yang bernama As-Sakran bin Amru, yang kemudian meninggal dunia.

3. Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menikahinya pada bulan Syawwal tahun kesebelas dari nubuwah, selang setahun setelah menikahi Saudah atau dua tahun lima bulan sebelum hijarah. Rasulullah menikahinya saat Aisyah masih berusia enam tahun, lalu hidup bersama Rasulullah pada bulan Syawwal, tujuh bulan setelah hijrah ke Madinah, yang saat itu umurnya sembilan tahun. Aisyah adalah seorang gadis dan Rasulullah tidak menikahi gadis kecuali dengan Aisyah. Aisyah termasuk orang-orang yang amat dicintai Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan merupakan wanita yang paling banyak ilmunya di tengah umat.

4. Hafshah binti Umar bin Al-Khattab
Hafshah binti Umar bin Al-Khattab ditinggal mati suaminya, Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, pada waktu antara Perang Badr dan Uhud, lalu dinikahi Rasulullah pada tahun 3 H.

5. Zainab binti Khuzaimah
Zainab binti Khuzaimah berasal dari Bani Hilal bin Amir bin Sha'sha'ah, yang dijuluki Ummul Masakin (ibunda orang-orang miskin), karena kasih sayang dan kemurahan hatinya terhadap mereka. Sebelum itu Zainab adalah istri Abdullah bin Jahsy, yang mati syahid pada Perang Uhud, lalu dinikahi Rasulullah pada tahun 4 H. Namun dia meninggal dunia dua atau tiga bulan setelah pernikahan ini.

6. Hindun binti Abu Umayyah (Ummu Salamah)
Sebelumnya Hindun binti Abu Umayyah adalah istri Abu Salamah yang meninggal dunia pada bulan Jumdats Tsaniyah tahun 4 H, lalu dinikahi Rasulullah pada bulan Syawwal pada tahun yang sama.

7. Zainab binti Jahsy bin Rayyab
Zainab binti Jahsy bin Rayyab berasal dari Bani Asad bin Khuzaimah dan putri bibi Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sendiri. Sebelumnya dian adalah istri Zaid bin Haritsah, yang dianggap sebagai putra sendiri oleh Rasulullah. Zaid menceraikannya, lalu Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan ayat Al-Qur'an yang tertuju langsung kepada diri Rasulullah,
"Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia." (Al-Ahzab:37)
Ada juga beberapa ayat dari surat Al-Ahzab lainnya yang menjelaskan masalah anak angkat. Rasulullah menikahinya pada bulan Sya'ban 6 H.

8. Juwairiyah binti Al-Harits
Bapaknya adalah pemimpin Bani Mushthaliq dari Khuza'ah. Tadinya Juwairiyah ada diantara para tawanan Bani Mushthaliq, yang kemudian menjadi bagian Tsabit bin Qais bin Syamms. Lalu Rasulullah menebus dirinya dan menikahinya pada bulan Sya'ban 6 H.

9. Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah)
Sebelumnya Ramlah binti Abu Sufyan adalah istri Ubaidillah bin Jahsy. Bersama suaminya, dia hijrah ke Habasyah. Namun, disana Ubaidillah murtad dan masuk agama Nashrani dan juga mennggal disana. Sekalipun suaminya murtad, Ummu Habibah tetap teguh dalam Islam. Tatkala Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengutus Amr bin Umayyah Adh-Dhamiri untuk menyerahkan surat beliau kepada Raja Najasyi pada bulan Muharram 7 H, beliau juga menyampaikan lamaran kepadanya.

10. Shafiyah binti Huyai bin Akhtab
Shafiyah binti Huyai bin Akhtab berasal dari Bani Israil, yang sebelumnya dia salah seorang dari tawanan Khaibar. Lalu Rasulullah memilihnya untuk diri beliau sendiri, membebaskannya dan menikahinya setelah penaklukan Khaibar pada tahun 7 H.

11. Maimunah binti Al-Harits
Maimunah binti Al-Harits adalah Ummu Fadl, Lubabah binti Al-Harits. Rasulullah menikahinya pada bulan Dzulqa'dah 7 H saat umrah qadha' setelah habis masa iddahnya.

Mereka inilah para wanita yang pernah dinikahi Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan beliau hidup bersama mereka. Ada dua orang diantara mereka yang meninggal dunia saat Rasulullah hidup, yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah, yang berarti Rasulullah meninggal dunia dengan meninggalkan sembilan lainnya menjadi janda.

Sedangkan dua wanita lainnya tidak hidup bersama Rasulullah, salah seorang diantaranya dari Bani Kilab dan satunya dari Kindah, yang dikenal dengan nama Al-Juwainiyah. Namun ada perbedaan pendapat mengenai masalah ini, tapi tidak akan dibahas disini.

Adapun wanita yang Rasulullah nikahi bukan sebagai wanita merdeka adalah Mariyah Al-Qibthiyah, yang dihadiahkan Al-Muqaiqis dan melahirkan putra bernama Ibrahim, namun kemudian meninggal dunia selagi masih kecil di Madinah semasa hidup Rasulullah, pada tanggal 28 atau 29 Syawwal 10 H, bertepatan dengan tanggal 27 Januari 632 M. Selain Mariyah, adalah Raihanah binti Zaid An-Nadhiriyah atau Al-Qurzhiyah, yang sebelumnya termasuk tawanan Quraizhah. Rasulullah memilihnya untuk dirinya sendiri. Ada yang berpendapat dia juga termasuk istri Rasulullah, yang dimerdekakan lalu dinikahi. Pendapat pertama ditegaskan Ibnul Qayyim. Sedangkan Abu Ubaidah menambahi dua wanita lainnya, yaitu Jamilah yang termasuk tawanan dan Jariyah yang dihadiahkan Zainab binti Jahsy kepada Rasulullah.

Siapapun yang mengamati kehidupan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam ini tentu mengetahui secara pasti bahwa perkawinan beliau dengan sekian banyak wanita ini, justru pada masa-masa akhir hidup beliau, setelah mewati 30 tahun dari masa muda beliau, yang pada masa itu hanya bertahan bersama wanita yang justru lebih tua, yaitu Khadijah, lalu Saudah. Tentu Rasulullah mengetahui bahwa perkawinan ini tidak sekedar didorong gejolak didalam diri dan mencari kepuasan dari sekian banyak wanita, tetapi disana ada berbagai tujuan yang hendak diraih dengan perkawinan tersebut.

Tujuan yang bisa dibaca, mengapa Rasulullah berbesan dengan Abu Bakar dan Umar, dengan menikahi Aisyah dan Hafshah, mengapa Rasulullah menikahkan Fathimah dengan Ali bin Abu Thalib, menikahkan Ruqayyah menyusul Ummu Kultsum (setelah Ruqayyah meninggal) dengan Utsman bin Affan, mengisyaratkan bahwa Rasulullah ingin menjalin hubungan yang benar-benar erat dengan empat orang tersebut, yang dikenal paling banyak berkorban untuk kepentingan Islam pada masa-masa kritis, yang berkata kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala akhirnya masa-masa kritis ini dapat dilewati dengan selamat.

Diantara tradisi bangsa Arab adalah menghormati hubungan perbesanan. Keluarga besan menurut mereka merupakan salah satu pintu untuk menjalin kedekatan antara beberapa suku yang berbeda. Menurut anggapan mereka, mencela dan memusuhi besan merupakan aib yang dapat mencoreng muka. Maka dengan menikahi beberapa wanita yang menjadi Ummahatul Mukminin, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam hendak mengenyahkan gambaran permusuhan beberapa kabilah terhadap Islam.

Setelah Ummu Salamah dari Bani Makhzum dinikahi Rasulullah yang satu perkampungan dengan Abu Jahl dan Khalid bin Walid, membuat sikap Khalid bin Walid tida ksegarang sikapnya sewaktu Perang Uhud. Bahkan akhirnya Khalid bin Walid masuk Islam tak lama setelah itu dengan penuh kesadaran dan ketaatan. Begitu pula Abu Sufyan yang tidak berani menghadap Rasulullah dengan permusuhan setelah Rasulullah menikahi putrinya, Ummu Habibah. Begitu pula yang terjadi dengan Bani Mushthaliq dan Bani Nadhir, yang tidak lagi melancarkan permusuhan setelah Rasulullah menikahi Juwairiyah dan Shafiyah. Bahkan Juwairiyah merupakan wanita yang paling banyak mendatangkan barakah bagi kaumnya. Setelah dia dinikahi Rasulullah, para sahabat membebaskan 100 keluarga dari kaumnya. Karena itu para sahabat saat itu berkata, "Mereka dalah para besan Rasulullah shallallahu'alaih wasallam." Tentu saja hal ini sangat mengundang simpati manusia dan berkesan di dalam jiwa.

Lebih besar dari itu, Nabi shallallahu'alaihi wasallam sudah diperintahkan untuk membersihkan dan memberdayakan manusia sebelaum mereka mengenal sedikit pun etika peradaban yang wajar dan bagaimana ikut andil dalam membangun masyarakat yang maju.

Prinsip-prinsip yang menjadi dasar untuk membangun masyarakat Islam, tidak memberikan peluang bagi kaum laki-laki untuk bercampur baur dengan kaum perempuan. Tidak mungkin memberdayakan kaum wanita seketika pada waktu itu pula, sementara pada saat yang sama prinsip ini sama sekali tidak boleh diabaikan. Padahal pemberdayaan kaum wanita tidak lebih sedikit daripada pemberdayaan kaum laki-laki, karena boleh dikatakan lebih kuat dan lebih dominan.

Maka tidak ada pilihan lagi bagi Rasulullah kecuali memilih beberapa wanita denga usia yang berbeda-beda dengan kelebihan masing-masing guna mewujudkan tujuan ini. Dengan begitu Rasulullah bisa membesihkan diri mereka, mendidik dan mengajarkan syariat dan hukum-hukum serta memberdayakan mereka dengan berbagai pengetahuan Islam. Lebih jauh lagi, Rasulullah bisa membekali mereka untuk mendidik para wanita di pedalaman yang masih Badui atau yang sudah beradab, yang tua maupun yang muda, sehingga mereka sudah cukup mewakili dakwa terhadap seluruh kaum wanita.
-----------------

Sumber: Buku Sirah Nabawiyah, karangan: Syaikh Shfiyyurrahman Al-Mubarakfuri, penerbit: Pustaka Al-Kautsar Jakarta.

Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Mengapa Rasulullah Menikahi Zainab binti Jahsy?
- Kecerdasan Abu Hanifah
- Syi'ah Mencela Rasulullah
- Kisah Sahabat yang memuliakan Tamu Rasulullah
- 1 Kambing Menjadi 4000 Kambing
- Mujahidah Berbaju Besi
- Syi'ah Aneh Tapi Nyata
- Kisah Cerdiknya Seorang Pemuda yang Ikhlas
 

Kecerdasan Abu Hanifah


Ada seorang laki-laki bertanya kepada Abu Hanifah,
"Wahai Abu Hanifah, bagaimana pendapatmu mengenai seorang laki-laki yang berkata seperti ini, 'Aku tidak mengharap surga dan tidak takut pada neraka. Aku akan memakan bangkai dan darah. Aku membenarkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Aku benci terhadap sesuatu yang hak (benar). Aku lari dari rahmat Allah. Aku juga meminum khamr. Aku bersaksi terhadap sesuatu yang tidak kulihat. Aku mencintai fitnah. Aku sholat tanpa berwudhu'. Aku tidak mandi setelah mengalami junub. Dan aku suka membunuh manusia.'"

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Abu Hanifah melihat kepada para hadirin dan berkata, "Jika menurut kalian bagaimana?" Mereka menjawab, "Itu jelas orang kafir." Mendengar jawaban mereka, Abu Hanifah tersenyum. Sejenak kemudian beliau berkata, "Itu adalah tanda orang mukmin." Mendengar jawaban Abu Hanifah, para hadirin terheran-heran dan bertanya, "Kenapa bisa begitu?"

Abu Hanifa berkata,
"Yang dimaksud aku tidak mengharap surga dan tidak takut pada neraka itu benar, karena ia berharap dan takut hanya kepada Pencipta surga dan neraka.

Yang dimaksud aku suka memakan bangkai dan darah, itu berarti ia memakan bangkai ikan dan belalang serta memakan hati dan limpa.

Yang dimaksud aku membenarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani, itu artinya ia membenarkan ucapan orang Yahudi dan Nasrani ketika berkata bahwa mereka tidak akan selamat.

Yang dimaksud aku benci terhadap sesuatu yang hak (benar), itu artinya ia membenci kematian, karena datangnya kematian merupakan sesuatu yang hak (benar).

Yang dimaksud aku lari dari rahmat Allah adalah ia lari ketika kehujanan dan hujan merupakan rahmat Allah.

Yang dimaksud aku juga meminum khamr adalah bahwa ia juga meminum khamr pada saat darurat (ketika tidak ada lagi minuman/air selain khamr.red).

Yang dimaksud aku mencintai fitnah adalah ia mencintai harta dan anak, padahal keduanya termasuk fitnah.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (cobaan) bagimu."

Yang dimaksud aku bersaksi terhadap sesuatu yang tidak kulihat, artinya ia bersaksi kepada Allah, para malaikat, para nabi dan rasul, padahal ia tidak melihatnya.

Yang dimaksud aku sholat tanpa berwudhu' adalah ia membaca shalawat kepada Nabi tanpa perlu berwudhu'.

Yang dimaksud aku tidak mandi setelah mengalami junub artinya ketika ia tidak menjumpai air untuk mandi.

Yang dimaksud aku senang membunuh manusia adalah ia senang membunuh orang-orang kafir, karena dalam sebuah ayat-Nya, Allah menyebut orang-orang kafir dengan sebutan manusia. sebagaimana firman-Nya,
"Sesungguhnya manusia (orang-orang kafir) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu (Muhammad)." (Ali Imran:173)
------------------

Sumber: Buku Golden Stories, karangan: Mahmud Musthafa Sa'ad dan Dr. Nashir Abu Amir Al-Humaidi, penerbit: Pustaka Al-Kautsar Jakarta

Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Syi'ah Mencela Rasulullah
- Kisah Sahabat yang Memuliakan Tamu Rasulullah
- Mujahidah Berbaju Besi
- Zina Adalah Hutang
- Boleh Jadi Aku Tidak Akan Bertemu Kalian Lagi
- Nasehat untuk Isteri yang Kedua
- Perubahan Kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah

Sabtu, 15 Februari 2014

Kisah Cerdiknya Seorang Pemuda yang Ikhlas


Yang menyaksikan kisah ini berkata,

Suatu hari aku di Makkah di salah satu supermarket. Setelah aku selesai memilih barang-barang yang hendak aku beli dan aku masukan ke kereta barang, maka akupun menuju tempat salah satu kashir untuk ngantri membayar.

Didepanku ada seorang wanita bersama dua putri kecilnya, dan sebelum mereka ada seorang pemuda yang persis di hadapanku di posisi antrian. Aku perhatikan ternyata setelah menghitung lalu sang kashir mengatakan, "Totalnya 145 real". Lalu sang wanitapun memasukan tangannya ke tas kecilnya untuk mencari-cari uang, ternyata ia hanya mendapatkan pecahan 50 real dan beberapa lembar pecahan sepuluhan real. Aku juga melihat kedua putrinya juga sibuk mengumpulkan uang pecahan real miliki mereka berdua hingga akhirnya terkumpulah uang mereka 125 real.

Maka nampaklah ibu mereka berdua kebingungan dan mulailah sang ibu mengembalikan sebagian barang-barang yang telah dibelinya. Salah seorang putrinya berkata, "Bu, yang ini kami tidak jadi beli, tidak penting bu."

Tiba-tiba aku melihat sang pemuda yang berdiri persis di belakang mereka melemparkan selembar uang 50 real di samping sang wanita dengan sembunyi-sembunyi dan cepat. Lalu sang pemuda tersebut segera berbicara kepada sang wanita dengan penuh kesopanan dan ketenangan seraya berkata, "Ukhti, perhatikan, mungkin uang 50 real ini jatuh dari tas kecilmu."

Lalu sang pemuda menunduk dan mengambil uang 50 real tersebut dari lantai lalu ia berikan kepada sang wanita. Sang wanitapun berterima kasih kepadanya lalu melanjutkan pembayaran barang ke kashir, kemudian wanita itupun pergi.

Setelah sang pemuda menyelesaikan pembayaran barang belanjaannya di kashir iapun segera pergi tanpa melirik ke belakang seakan-akan ia kabur melarikan diri. Akupun segera menyusulnya lalu aku berkata, "Akhi…sebentar dulu…!, aku ingin berbicara denganmu sebentar". Lalu aku bertanya kepadanya, "Demi Allah, bagaimana kau punya ide yang cepat dan cemerlang seperti tadi?"

Tentunya pada mulanya sang pemuda berusaha mengingkari apa yang telah ia lakukan, akan tetapi setelah aku kabarkan kepadanya bahwa aku telah menyaksikan semuanya, dan aku menenangkannya dan menjelaskan bahwasanya aku bukanlah penduduk Makkah, aku hanya menunaikan ibadah umroh dan aku akan segera kembali ke negeriku, dan kemungkinan besar aku tidak akan melihatnya lagi.

Lalu iapun berkata, "Saudaraku, demi Allah aku tadi bingung juga, apa yang harus aku lakukan, selama dua menit tatkala sang wanita dan kedua putrinya berusaha mengumpulkan uang mereka untuk membayar kashir…, akan tetapi Rabbmu Allah subhaanahu wa ta'aala mengilhamkan kepadaku apa yang telah aku lakukan tadi, agar aku tidak menjadikan sang wanita malu dihadapan kedua putrinya… Demi Allah, saya mohon agar engkau tidak bertanya-tanya lagi dan biarkan aku pergi".

Aku berkata kepadanya, "Wahai saudaraku, aku berharap engkau termasuk dari orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka :

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (٥) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (٦) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (٧)

"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." (QS Al-Lail 5-7).

Lalu sang pemuda itupun menangis, lalu meminta izin kepadaku dan berjalan menuju mobilnya sambil menutup wajahnya.
Sumber: Ust. Firanda Andirja

Artikel: My Diary 

Baca Juga:

Jumat, 14 Februari 2014

Video Ustad Hariri NGAMUK !!!

Astaghfirullah aladzim, Ust. Hariri NGAMUK!!!!

Ustadz ini pernah jadi pemain dalam sebuh sinetron (judulnya Islam KTP), beliau berperan sebagai ustadz di sinetron tersebut.

Yang membuat ana kurang respek dengan ustadz ini, beliau pernah menyampaikan sebuah hadits dalam sineteron tersebut, bunyinya seperti berikut ini,

"Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau anak yang sholeh yang mendo'akan atau istri yang sholehah," (ini ucapan ust. Hariri dalam sinetron tersebut)

Seharusnya hadits tersebut berbunyi,

عَنْ أبِى هُرَيْرَة(ر)أنَّ رَسُول الله .صَ. قَالَ:إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ

صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود)

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda, "Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atu anak yang sholeh yang mendo'akannya." (Hadits riwayat, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa'i dan Ahmad)




Sumber: YouTube dan Facebook Diana Rosmawati

Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Zina Adalah Hutang
- Awal Zina Adalah Rasa Khawatir, Ujungnya Penyesalan
- Ayat-Ayat Setan Dalam Kitab Suci Syi'ah
- Siapa Tuhan Syi'ah?
- HARAMNYA Melakukan Takhbib (menggoda) Istri Orang Lain