Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Mei 2015

Nikmat Tuhanmu Manakah yang Engkau Dustakan?


Nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?
Oleh: Ustadz Firanda Andirja MA

Allah tidak pernah mengacuhkanmu disaat banyak manusia mengacuhkanmu.

Allah tidak pernah bosan mendengarkan keluhanmu tatkala manusia bosan dan enggan untuk mendengarkan keluhanmu….

Allah tidak pernah meninggalkamu sendirian (jika engkau bersandar kepadanya) disaat manusia meninggalkanmu.

Allah tidak pernah merendahkanmu (jika kamu taat kepadanya) disaat banyak manusia merendahkanmu karena kurangnya harta dan kedudukanmu (karena kebanyakan manusia mengukur kehormatan seseorang dengan harta).

Allah selalu memaafkanmu jika engkau bertaubat, disaat manusia enggan memafkanmu dan terus mencelamu.

Allah tidak pernah bosan untuk engkau dekati (jika engkau bertaubat) meskipun telah berulang-ulang engkau bersalah kepadaNya, tatkala manusia langsung meninggalkamu dan menghinakanmu karena hanya satu kesalahanmu.

Allah menilai satu kebaikanmu menjadi 10 kali lipat hingga tiada batas dan hanya menilai satu kesalahanmu tetap sebagai satu kesalahan, tatkala manusia menganggap besar satu kesalahanmu yang kecil dan melupakan kebaikan-kebaikanmu.

Allah selalu memberi pertolongan disaat pertolongan manusia tidak bisa lagi diharapkan.

MAKA : Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan???? 
----------- 

Sumber: Diana Rosmawati 

My Diary

Kamis, 14 Mei 2015

Saat Engkau Tertidur Lelap



"Saat engkau tertidur lelap, boleh jadi pintu-pintu langit diketuk oleh puluhan doa yang memohon kebaikan untukmu. 
(Doa itu datang) dari si fakir yang pernah engkau tolong, 
dari orang lapar yang pernah engkau beri makan, 
dari orang sedih yang pernah engkau bahagiakan, 
dari orang yang pernah berpapasan denganmu dan kau berikan senyuman untuknya, 
atau dari orang terhimpit kesulitan yang telah engkau lapangkan.
Maka jangan pernah meremehkan sebuah kebajikan untuk selama-lamanya."

(Ibnul Qayyim A-Jauziyah)

-------------------


Artikel: My Diary

Jumat, 10 April 2015

Wanita Mulia Ini Memberikan Jatah Harinya Untuk Madunya

Saudah binti Zam'ah radhiallahu'anha.
Ya, dialah wanita mulia, Ummahatul Mukminiin, yang memberikan jatah hariannya kepada madunya.

Saudah radhiallahu'anha selalu berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan ridha Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam meski dia harus merelakan kebahagiannya sendiri. Saudah radhiallahu'anha tahu bahwa istri yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam diantara istri-istri beliau yang lain adalah Aisyah radhiallahu'anha. Karena dia ingin membahagiakan Rasulullah, diberikanlah jatah harinya untuk Aisyah untuk memperoleh ridha beliau.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu'anha, dia berkata; "Setiap kali Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam akan melakukan perjalanan jauh, beliau mengundi istri-istrinya. Nama istri beliau yang keluar dalam undianlah yang akan ikut bersama beliau. Disamping itu, Rasulullah shallallahu'aliahi wasallam juga membagi hari dan malam diantara para istrinya, kecuali Saudah binti Zam'ah, dia memberi jatah hari dan malamnya untuk Aisyah istri Nabi dalam rangka memperolah ridha beliau.[1]

Diriwayatkan dari Urwah, dia berkata: Aisyah berkata: "Wahai keponakanku, sungguh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam itu tidak pernah membedakan diantara kami dan tidak pernah melebihkan salah seorang dari kami atas yang lainnya dalam membagi jatah tinggal di tempat kami. Tidak ada hari sedikit pun, kecuali beliau berkeliling mengunjungi kami semua. Beliau dekat dengan semua istri-istrinya tanpa membedakan. Sehingga sampailah beliau ke rumah istrinya yang memiliki jatah hari, lalu beliau menginap di tempatnya."

Saudah binti Zam'ah radhiallah'anha berkata ketika dia telah semakin tua, "Wahai Rasulullah, jatah hariku untuk Aisyah. " Dan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menerima pemberiannya itu. Kami mengatakan bahwa Allah Subhanahu waTa'ala menurunkan ayat terkait peristiwa tersebut, dan mungkin dengan serupa itu, yaitu firman-Nya yang artinya:
"Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," (QS. An-Nisa: 128)[2]
Tindakan mulia berupa mengutamakan kepentingan orang lain yang amat jarang terjadi di dunia perempuan ini membuat Aisyah radhiallahu'anha sangat heran sekaligus kagum, sehingga dia memuji-muji Saudah dengan berbagai pujian yang tidak bisa terlukiskan oleh kata-kata.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu'anha, dia berkata; "Tidak ada perempuan yang lebih aku sukai untuk berada didekatnya selian Saudah binti Zam'ah". Aisyah berkata lagi; "Ketika dia semaki n tua, dia memberi jatah harinya dari Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam kepadaku" Dia bekata; "Wahai Rasulullah, aku berikan jatah hariku darimu untuk Aisyah." Dengan demikian Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam memberi jatah dua hari untuk Aisyah, satu hari adalah jatahnya, satu hari lagi adalah jatah Saudah. [3] [4]

__________________
footnote:
[1] (Hadits Shahih) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 2593) dalam kitab Al-Hibah wa Fadhluha wa at-tahriish, bab Hibatu Al-Mar'ah lighairi Zaujiha in Kaana laha Zauj, dan Abu Daud (no. 2138)
[2] (Hadits Shahih) Diriwayatkan oleh Abu Daud (no. 2135). Al-Albani berkata dalam kitab "Shahih Sunan Abi Daud" (no. 1868) hadits ini hasan shahih.
[3] (Hadits Shahih) Diriwayatkan oleh Muslim (no.1463) dalam kitab Ar-Ridhaa'ah, bab Jawaaz Hibatihaa Naubataha li Dharratiha.
[4] Imam Nawawi berkata; "Aisyah tidak ingin membeberkan aib Saudah dengan ucapannya itu melainkan dia ingin menggambarkan kekuatan hati Saudah dan kedermawanannya. Ucapannya; 'Maka ketika dia semakin tua, dia memberikan jatah harinya dari Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam kepada Aisyah.' Disitu tersirat kebolehan memberikannya kepada penggantinya karena itu adalah haknya, akan tetapi diisyaratkan dalam hal itu kerelaan suami dengan pemberian itu. Karena suami memiliki hak dalam memberikannya, maka hak itu tidak boleh dihilangkan kecuali dengan kerelaan suami. Sang istri tidak boleh meminta pengganti dari jatah hari yang diberikannya. Namun dia boleh memberikan jatah itu kepada suaminya untuk menentukan kepada siapa jatah itu diberikan. Ada yang berpendapat bahwa jika demikian sang suami harus membagi rata jatah itu kepada istri-istri yang lain dan menganggap istri yang memberikan jatah hari itu tidak ada. Pendapat pertama lebih shahih. Kemudian istri yang memberikan itu berhak untuk meminta kembali jatahnya kapan dia inginkan, maka jatahnya akan kembali untuknya pada masa yang akan datang, bukan yang telah lewat." (Muslim dengan syarah Nawawi, juz 10, hal. 71)

Sumber: Buku Wanita Pilihan di Zaman Rasulullah, hal: 119-120, karangan: Syaikh Muhammad Hasan, penerbit: Pustaka As-Sunnah.

Artikel: My Diary


Sabtu, 22 November 2014

Kesabaran dan Kepasrahan Ummu Sulaim

Setelah Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menikahkan Abu Thalhah dengan Ummu Sulaim dengan mahar keIslaman Abu Thalhah, mereka pun hidup dengan bahagia dan dikaruniai seorang anak yang menambah kebahagiaan mereka. Anak itu kemudian dinamai Abu Umair. Dia tumbuh menjadi anak yang manis dan memberi kebahagiaan kepada kedua orangtuanya. Dia diberi seekor burung agar bisa bermain dan bercanda dengan burung itu. Hingga Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah datang dan berkata kepadanya; "Hai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan oleh Nughair (sebutan untuk burung itu)?"

Namun Allah Subhanahu waTa'ala Maha Berkehendak untuk menguji keduanya (Ummu Sulaim dan Abu Thalhah radhiallahu'anhuma) dengan bayi yang manis ini. Sang anak jatuh sakit, dan kian hari sakitnya semakin parah.

Suatu saat, Abu Thalhah pergi dan pada waktu itu meninggalkan anak mereka. Ummu Sulaim menghadapi kematian sang anak dengan penuh kesabaran dan kerelaan hati atas ketetapan Allah Subhanahu waTa'ala. Maka dia berkata: 'Alhamdulillah, Inna lillahi wainna ilaihi roji'un (Segala puji bagi Allah. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami pasti akan kembali kepada-Nya).'

Tentang hal ini Anas bin Malik radhiallahu'anhu menceritakan kisah tersebut dengan lengkap.

Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu dia berkata; 'Putra Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, Ummu Sulaim lalu berkata kepada keluarganya; 'Jangan kalian ceritakan kepada Abu Thalhah tentang anaknya sampai aku sendiri yang memberitahunya.'

Abu Thalhah pun datang. Maka Ummu Sulaim menyiapkan untuknya makan malam, Abu Thalhah pun makan dan minum. Kemudian Ummu Sulaim berhias untuknya dengan riasan yang sangat cantik yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. Maka Abu Thalhah pun berjima' dengan Ummu Sulaim.

Setelah Ummu Sulaim melihat Abu Thalhah telah kenyang dan telah berjima' dengannya, dia berkata; 'Wahai Abu Thalhah, menurutmu kalau suatu kaum meminjamkan ke keluargamu suatu pinjaman lalu mereka memintanya kembali, apakah mereka boleh menolak untuk mengembalikannya?'
Jawab Abu Thalhah; 'Tidak.'
Ummu Sulaim berkata; 'Kalau begitu ikhlaskanlah putramu.'

Anas berkata; 'Abu Thalhah pun marah dan berkata; 'Engkau membiarkanku bersenang-senang dengan bersetubuh denganmu, lalu baru kau beritahu keadaan anakku.' Abu Thalhah pun keluar dan menemui Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Dia menceritakan yang telah terjadi. Maka Nabi berkata; "Semoga Allah memberkahi kalian berdua atas apa yang terjadi pada malam kalian berdua."

Anas berkata; 'Ummu Sulaim pun hamil lagi.'

Anas berkata; 'Waktu itu Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sedang berada dalam perjalanan, sementara Ummu Sulaim ikut bersama beliau. Apabila Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam kembali ke Madinah setelah melakukan perjalanan, beliau tidak akan langsung masuk menemui istrinya malam hari (kecuali setelah memberitahu mereka. Maka beliau akan singgah terlebih dahulu di Masjid dan shalat dua rakaat. Ini adalah bagian dari adab agar sang istri bersiap-siap terlebih dahulu untuk menyambut sang suami). Maka ketika telah dekat ke Madinah, Ummu Sulaim merasakan sakit ingin melahirkan, sehingga Abu Thalhah pun bertahan untuk menjaganya sementara Rasulullah shallallahu'alahi wasallam melanjutkan perjalanan.'

Anas berkata; 'Abu Thalhah berkata, 'Engkau Maha Tahu ya Allah, bahwa aku lebih suka keluar bersama rasul-Mu ketika dia keluar dan masuk bersamanya ketika dia masuk. Sedangkan saat ini aku harus bertahan sebagaimana Engkau ketahui.' Ummu berkata; 'Wahai Abu Thalhah, sakit yang aku rasakan tadi telah hilang. Mari kita lanjutkan perjalanan.' Kami pun melanjutkan perjalanan.

Anas berkata; 'Ummu Sulaim kembali merasakan sakit dan melahirkan ketka kami telah sampai ke Madinah. Maka tak lama kemudian Ummu Sulaim pun melahirkan seorang putra. Ibuku berkata kepadaku; 'Hai Anas, jagalah anak ini, jangan sampai ada yang menyusuinya sampai engkau bawa dia kepada Nabi shallallahu'alaihi wasallam.''

Ketika pagi menjelang, aku pun membawanya kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Tiba-tiba aku bertemu dengan beliau di jalan, beliau sedang berjalan bersama Maisam. Ketika keduanya melihatku, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berkata; "Nampaknya Ummu Sulaim telah melahirkan." Jawabku; 'Ya.' Maka Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pun menurunkan Maisam. Lalu aku ikut dengan beliau hingga sampai ke rumahnya, dan meletakkan anak Ummu Sulaim di kamar beliau. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam lalu meminta beberapa biji kurma ajwah (kurma terbaik Madinah). Lalu beliau mengunyah sedikit bagian kurma itu sampai lunak, kemudian disuapkan pada sang bayi (ditahnikkan), sehingga sang bayi mengemutnya. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berkata; "Lihat, bagaimana orang Anshar sangat menyukai kurma." Anas berkata; 'Rasullah shallallahu'alaihi wasallam lalu mengusap wajah sang bayi dan menamainya Abdullah.' [1]

Seorang anak laki-laki dari Anshar berkata; 'Setahuku keduanya memiliki anak sembilan orang anak, semuanya hafal Al-Qur'an.' [2]

Sungguh merupakan keturunan yang diberkahi, sungguh merupakan pahala yang besar di dunia bagi orang yang bersabar atas musibah yang menimpanya. Di tambah lagi dengan kebaikan yang menunggunya di surga nanti, sebuah tempat yang tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terlintas dalam pikiran seorang manusia pun. [3]

__________________________
footnote:
[1] Diriwayatkan oleh Muslim (2144) dari Anas radhiallahu'anhu

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3/269) dalam kitab Al-Janaaiz dan Muslim (14/124-125)

[3] Ashaabur Rasul, karya Syaikh Muhammad Hassan (1/458-459)

Sumber: Buku Wanita Pilihan di Zaman Rasulullah, karangan: Syaikh Muhammad Hassan, penerbit: Pustaka As-Sunnah, hal: 503-505

Artikel: My Diary


Ummu Sulaim, Maharnya adalah Islam

Siapa yang belum mengenal Ummu Sulaim?

Ummu Sulaim adalah seorang perempuan di zaman Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, yang Allah Ta'ala berikan ilmu, kefaqihan, keikhlasan, kejernihan hati, kemuliaan, dan keberanian.

Dialah perempuan yang hatinya dirasuki oleh keimanan sejak saat-saat awal dia mendengar Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
Dia adalah perempuan yang berdiri membela Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan lebur bersama pasukan kaum muslimin di medan pertempuran.
Dia adalah perempuan yang khusyu', sabar, berhati mulia, dan salah satu perawi yang memiliki kedudukan mulia.
Dialah yang dilihat oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam di surga.
Dia adalah Ummu Sulaim radhiallahu'anha, perempuan yang disebut oleh Abu Naim: 'Ummu Sulaim, perempuan yang tunduk kepada hukum Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan ikut memikul senjata dalam berbagai pertempuran/peperangan.'

Perempuan istimewa ini bernama Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub Al-Anshariyah. Dia adalah ibu dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu, pelayan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang nama aslinya, ada yang menyebut Sahlah, Rumailah, Rusmaishah, Malikah, Ghumaisha' dan Rumaisha'

Kali ini, kita tidak bercerita tentang bagaimana beraninya Ummu Sulaim di medan pertempuran. Kali ini, kita bercerita tentang cinta Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim yang penuh dengan keimanan kepada Rabbnya. Kisah cinta yang sangat menyentuh jiwa.

Maharnya adalah Islam

Kisah bermula dari orang-orang di Madinah senantiasa membicarakan Anas dan ibunya dengan penuh takjub dan penghormatan. Hal tersebut sampai ke telinga Abu Thalhah, sehingga muncul perasaan suka dalam hatinya. Maka Abu Thalhah pun datang melamar Ummu Sulaim dan menawarkan kepadanya mahar yang mahal. Namun Abu Thalhah terkejut ketika ternyata Ummu Sulaim menolaknya dengan penuh hormat dan berkata; 'Aku tidak mungkin menikah dengan seorang musyrik. Tidakkah engkau tahu, wahai Abu Thalhah, tuhan-tuhan kalian itu dibuat oleh budak keluarga kalian. Jika kalian menyulut api, pasti akan terbakar.'[1]

Abu Thalhah pun merasa hatinya begitu sempit. Maka dia pun pergi dan hampir tidak mempercayai apa yang dilihat dan didengarnya. Akan tetapi cintanya yang tulus membuatnya kembali pada keesokan harinya dengan membawa mahar yang lebih banyak, berharap Ummu Sulaim akan melunak dan menerimanya.

Akan tetapi Ummu Sulaim sang da'iyah dan cerdas, yang menyaksikan dunia datang silih berganti di depan matanya, baik harta, kedudukan, dan pemuda, merasakan bahwa benteng keislaman dalam hatinya jauh lebih kuat dari seluruh kenikmatan duniawi.  Maka dia pun berkata dengan penuh santun; 'Orang seperti dirimu tidak layak ditolak, wahai Abu Thalhah, akan tetapi engkau adalah orang kafir sementara aku perempuan muslimah, aku tidak boleh menikah denganmu.'
Abu Thalhah berkata; 'Ini mahar untukmu.' 
Ummu Sulaim bertanya, 'Apa mahar-ku?'
Abu Thalhah menjawab, 'Emas dan perak,'
Ummu Sulaim berkata, 'Aku tidak menginginkan emas dan perak, aku hanya ingin ke-Islaman-mu.'
Abu Thalhah bertanya, 'Siapa yang harus ku temui untuk itu?'
Jawab Ummu Sulaim, 'Temui Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.'

Maka Abu Thalhah pun pergi menemui Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam yang kala itu sedang duduk bersama para sahabatnya. Ketika Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam melihat kedatangan Abu Thalhah, beliau berkata kepada para sahabatnya, "Abu Thalhah datang kepada kalian, di matanya terdapat semangat keIslamana." Abu Thalhah pun datang dan menceritakan apa yang dikatakan Ummu Sulaim kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pun menikahkannya dengan Ummu Sulaim dengan mahar keIslamannya.

Dalam riwayat lain disebutkan: 'Orang seperti tidak pantas ditolak, wahai Abu Thalhah, akan tetapi engkau adalah orang kafir sementara aku perempuan muslimah, aku tidak boleh menikah denganmu. Jika engkau masuk Islam, itulah maharku dan aku tidak akan meminta yang lain darimu.'[2]

Kata-kata tersebut merasuk ke dalam hati Abu Thalhah dan memenuhi rongga tubuhnya. Ummu Sulaim telah benar-benar mencuri hatinya. Dia bukanlah perempuan yang mudah tergoda oleh bujuk rayu, akan tetapi dia adalah perempuan yang cerdas yang amat mengerti kedudukannya. Apakah Abu Thalhah akan menemukan perempuan yang lebih baik dari dirinya untuk menjadi istrinya dan ibu dari anak-anaknya?

Tanpa terasa, dia selalu mengulang-ulang; 'Aku telah sama denganmu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.'

Ummu Sulaim lalu berkata kepada Anas dengan hati yang gembira karena Allah Subhanahu waTa'ala telah menurunkan hidayah kepada Abu Thalhah lewat tangannya. 'Bangunlah, hai Anas, nikahkan Abu Thalhah.' Maka Anas pun menikahkan Abu Thalhah dengan ibunya dengan mahar keIslaman Abu Thalhah.

Tsabit meriwayatkan perkataan dari Anas; 'Aku tidak pernah mendengar ada perempuan yang mendapat mahar yang lebih mulia dari pada Ummu Sulaim. Maharnya adalah Islam.'[3]

Ummu Sulaim adalah contoh istri yang shalihah, dia menunaikan hak suami dengan sebaik-baiknya, disamping dia juga contoh ibu yang penyayang, pendidik hebat dan da'iyah.

Dilain waktu kita akan bercerita tentang bagaimana lembut dan cerdiknya Ummu Sulaim menghibur suaminya (Abu Thalhah) ketika anak mereka meninggal dan bagaimana mereka sangat mengutamakan tamu.

_________________________
footnote:
[1] Lihat At-Thabaqaat, Ibnu Sa'ad, (8/312) dan yang sepertiitu di Al-Ishabah. Ibnu Hajar, (8/243). Begitu juga di Al-Hiyah, (2/59) dan sanadnya shahih.

[2] Diriwayatkan oleh Nasa'i, (6/114) dengan sanad yang shahih. Hadits ini memiliki banyak periwayatan. Lihat Al-Ishabah, (8/243)

[3] Diriwayatkan oleh Nasa'i dalam kitab Sunan (6/114) dengan sanad shahih.

Sumber: Buku Wanita di Zaman Rasulullah, karangan: Syaikh Muhammad Hassan, penerbit: Pustaka As-Sunnah, hal: 496-498.

Artikel My Diary


Selasa, 01 April 2014

Asma' binti Abu Bakar radhiallahu'anhuma


Asma' binti Abu Bakar adalah salah satu wanita terbaik pada zaman Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Dari Keluarga yang Mulia dan Terhormat.
Ayahnya adalah manusia terbaik yang pernah lahir di muka bumi ini setelah para nabi dan rasul. Dialah orang pertama dari sepuluh orang yang diberi kabar gembira berupa surga, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu'anhu.

Suami saudara perempuannya adalah pemimpin manusia sepanjang masa, Muhammad bin Abdulllah radhiallahu'anhu.

Saudara seayahnya adalah Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu'anha.

Kakek dari pihak ayahnya, Abu Quhafah, sempat masuk Islam dan memperoleh kehormatan menjadi sahabat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Nenek dari pihak ayahnya, Ummu Khair, Salma binti Shakr juga sempat masuk Islam dan memperoleh kehormatan menjadi sahabat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Sedangkan tiga orang bibinya adalah termasuk dari kalangan sahabiyat, yaitu Ummu Amir, Qaribah dan Ummu Farwah, semuanya putri Abu Quhafah.

Suaminya adalah penolong Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan putra paman beliau, salah satu dari sepuluh orang yang diberi kabar gembira akan masuk surga dan orang pertama yang menghunuskan pedang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yaitu Zubair bin Awwam radhiallahu'anhu.

Putranya adalah khalifah Abdullah bin Zubair, yang menjadi simbol ibadah dan jihad.

Saudara sekandungnya adalah Abdullah bin Abu Bakar, salah seorang sahabat terkemuka.

Saudara seayah adalah Abdurrahman bin Abu Bakar, saudara kandung Aisyah radhiallahu'anha, seorang pemberani dan ahli memanah yang terkenal.

Karena itulah, ada yang menyebutkan bahwa tidak ada satu keluarga sahabat pun yang empat generasi dalam keluarga itu sempat bertemu Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan semua menjadi sahabat beliau, kecuali keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu'anhu. Asma', ayahnya (Abu Bakar Ash-Shiddiq), kakeknya (Abu Quhafah), dan anaknya ( Abdullah bin Zubair) adalah empat orang sahabat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam yang berasal dari empat generasi.

Dan tidak ada kata yang dapat melukiskan keutamaan keluarga yang diberkahi itu yang darinya Asma' terlahir dan didalamnya dia tumbuh dan berkembang.

Termasuk Wanita Pertama yang Masuk Islam
Asma' binti Abu Bakar radhiallahu'anha dilahirkan di Makkah, 27 tahun sebelum hijrah. Dia tumbuh di rumah ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu'anhu yang pada dirinya terkumpul segala macam kebaikan. Dialah orang yang paling mulia setelah Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Dialah yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dalam sabdanya:
"Tidak ada tangan seorang pun yang memberi bantuan kepada kami melainkan telah kami balas dengan balasan yang setimpal, kecuali tangan Abu Bakar, dia memberi bantuan keapda kami (begitu banyak), hanya Allah yang akan membalasnya di Hari Kiamat nanti. Tidak ada harta seorang pun yang memberi manfaat begitu besar seperit yang kami peroleh dari harta Abu Bakar. Kalau saja aku boleh mengambil pendamping setia, aku pasti akan menjadikan Abu Bakar sebagai pendampingku. Ketahuilah, sahabat kalian adalah kekasih Allah." (HR. Tirmidzi (3662) dalam kitab Al-Manaaqib dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam kitab Shahih Sunan At-Tirmidzi (2894))

Asma' radhiallahu'anha tumbuh di rumah ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu'anhu, lalu dia belajar banyak dari sang ayah mengenai kemuliaan akhlaq. Dia tumbuh dalam suasana yang amat mencintai kemuliaan.

Ketika matahari Islam terbit di langit semenanjung Arab, ayahnya adalah orang pertama yang menyatakan keislamannya diantara kaum laki-laki. Dari situ, Asma' pun akhirnya masuk Islam pada saat-saat awal. Dia termasuk kelompok wanita pertama yang masuk Islam. Nomor urutnya di catatan kafilah iman adalah delapan belas. Hanya tujuh belas orang muslim dan muslimah yang mendahuluinya masuk Islam. Dengan demikian, dia termasuk orang-orang yang disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam firman-Nya:

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan muhajirin dan asnhar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah: 100)

Menikah dengan Laki-Laki yang Termasuk Sekelompok Orang yang Dijamin Masuk Surga
Allah Subhanahu Wa Ta'ala maha berkendak untuk menikahkan Asma' binti Abu Bakar dengan seorang laki-laki yang termasuk dalam sekelompok orang yang dijamin masuk surga, yaitu Zubair bin Awwam, sang penolong Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Dia adalah orang yang faqir, namun cukuplah baginya bahwa dia orang yang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Menjadi Istri yang Sholehah
Diriwayatkan dari Asma' binti Abu Bakar, dia berkata; "Ketika aku baru dinikahi oleh Zubair, ia belum memiliki sawah, kebun atau budak. Yang dimilikinya hanya seekor kuda. Aku yang memberi makan kudanya dan mengambil air, aku juga menambal (menjahit) timbanya dan memasak, sementara itu aku belum bisa membuat roti. Maka terpaksa dibuatkan oleh tetangga dari wanita-wanita anshar, mereka adalah wanita-wantia yang jujur. Waktu itu aku sendiri mengetam dan mengambil hasil kebun yang diberi oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, aku angkat diatas kepalaku. Ketika aku sedang mengangkat hasil kebun itu yang jaraknya dari rumah sekitar dua pertiga farsakh, tiba-tiba lewat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersama beberapa orang dari sahabat Anshar. Lalu Rasulullah shallallahu'alaih wasallam memanggilku, beliau menghentikan kendaraannya supaya aku bisa membonceng dibelakangnnya. Tetapi aku malu berjalan bersama orang-orang lelaki, aku juga teringat bagaiman cemburunya Zubair, dia memang sangat pencemburu. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengerti bahwa aku saat itu merasa malu, maka beliau pun berlalu. Kemudian kejadian itu aku ceritakan kepada Zubair, 'Aku tadi bertemu dengan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersama beberapa orang sahabat Anshar. Waktu itu aku sedang memikul hasil kebun di atas kepalaku. Lalu Nabi merendahkan kendaraannya agar aku bisa membonceng di belakangnya. Tetapi aku malu dan ingat cemburumu.' Zubair menjawab, 'Demi Allah, engkau membawa beban di atas kepalamu di muka orang-orang lebih berat bagiku daripada engkau membonceng Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.' Demikian itu hingga Abu Bakar memberiku pelayan untuk memelihara kuda, maka seolah-olah dia telah memerdekakan aku." (Hayatus Shahabah, 2/691)

Pemilik Dua Ikat Pinggang
Ketika gangguan kaum musyrikin Quraisy terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam semakin menjadi-jadi, Rasulullah pun mengizinkan para sahabatnya untuk hijrah ke Madinah Munawwarah. Merekapun hijrah ke sana dan tinggal di bawah naungan kaum Anshar.

Tak lama kemudian, Allah Subhanahu Wa Ta'la pun mengizinkan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam untuk ikut hijrah ke Madinah, maka beliau pun berangkat ke sana bersama sahabatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu'anhu. Keluarga Abu Bakar memiliki peran yang luar biasa sepanjang sejarah dalam rangka memberikan pelayanan maksimal untuk kemuliaan Islam dan Rasul pembawa Risalah Islamiyah.

Abdullah bin Abu Bakar radhiallahu'anhu pada siang hari berada di tengah-tengah kaum musyrikin Quraisy untuk mencuri dengar apa yang mereka perbincangkan, kemudian pada malam harinya dia mendatangi Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam dan Abu Bakar di gua Tsur untuk memberitahukan apa yang didengarnya. Amir bin Fahirah, bekas budak Abu Bakar adalah penggembala yang menggembalakan kambing penduduk Makkah. Menjelang sore hari, Amir bin Fahirah menggembalakan kambingnya disekitar gua Tsur, maka Rasulullah dan Abu Bakar dapat memerah susu kambing Abu Bakar dan menyembelihnya. Pada pagi harinya, ketika Abdullah bin Abu Bakar hedak pergi meninggalkan mereka berdua menuju Makkah, Amir bin Fahirah mengikuti di belakang untuk menghapus jejak Abdullah dengan jejak kaki kambingnya.

Sedangkan Asma' binti Abu Bakar, dia pun memiliki peran yang luar biasa. Ketika Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam diizinkan untuk hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau mendatangi Abu Bakar. Beliau berkata; "Aku telah diizinkan untuk pergi (hijrah)". Abu Bakar berkata; 'Demi Allah, bolehkan aku menemanimu, wahai Rasulullah'. Beliau menjawab; "Ya."

Aisyah radhiallahu'anha berkata: "Kami lalu mempersiapkan bekal keduanya, kami buatkan untuk mereka makanan musafir dan kami letakkan dalam kantong kulit. Asma' binti Abu Bakar lalu merobek sebagaian kain ikat pinggangnya, lalu mengikat kantong kulit itu dengan ujung kain ikat pinggang itu. Karena itulah dia dijuluki Dzatun Nithaq (Si pemilik ikat pinggang)." (HR. Bukhari, 3905)

Diriwayatkan dari Asma' binti Abu Bakar, dia berkata; 'Aku membuat makanan musafir untuk Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan ayahku ketika keduanya akan berangkat ke Madinah Munawwarah. Aku berkata kepada ayahku: 'Aku tidak menemukan sesuatu untuk mengikatnya kecuali kain ikat pinggangku.' Abu Bakar berkata; 'Kalau begitu robeklah menjadi dua.' Maka aku pun melakukannya. Akhirnya aku dijuluki Dzatun Nithaqain (Si pemilik dua ikat pinggang).' (HR. Bukhari, 3907)

Zubair bin Bakkar berkata mengenai kisah ini; 'Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam berkata kepadanya; "Semoga Allah mengganti ikat pinggangmu ini dengan dua ikat pinggang di surga." Maka dia dijuluki dengan Dzatun Nithaqain (Si pemilik dua ikat pinggang). (Fathul Bari, 7/287)

Apa yang dilakukan oleh Asma' binti Abu Bakar radhiallahu'anha mungkin belum tentu bisa dilakukan oleh seorang lelaki pemberani sekalipun, mengingat situasi waktu itu sangat berbahaya, gelap gulita dan terbuka kemungkinan terjadinya hal yang terburuk, sehingga membutuhkan keberanian yang luar biasa, keteguhan hati, kekuatan fisik dan kemampuan mengendalikan perasaan.

Begitulah keberanian Asma' yang ketika itu dalam keadaan mengandung putranya Abdullah, Asma' berjalan seorang diri di kegelapan malam sambil membawa makanan, menempuh jalan yang berbahaya dalam jarak cukup jauh, mendaki bukit agar bisa sampai ke gua Tsur (bagi anda yang sudah melaksanakan haji atau umrah, pasti tahu bagaimana terjal dan sulitnya mendaki hingga sampai ke gua Tsur), semua itu berhasil dilaluinya, sementara mata-mata kaum musyrikin Quraisy selalu mengikutinya. Akan tetapi Asma' binti Abu Bakar sangat yakin bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala melindunginya dan pandangan-Nya menjaganya. (Nisa'un Mubasysyiratun bil Jannah, Ahmad Khalil Jum'ah, hal: 256-257)

Balasan memang setimpal dengan perbuatan.

Dikutip dari buku Wanita Pilihan di Zaman Rasulullah, karangan: Syaikh Muhammad Hassan, penerbit: Pustaka as-Sunnah, Jakarta

Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Aisyah Kalah oleh Hafsah
- Jadilah Pema'af
- Kisah: Cerdiknya Seorang Pemuda yang Ikhlas
- Kapan Waktu Pelaksanaan Sholat Sunnah Fajar
- Paman, Permen itu Masih Terasa Manis di Mulutku
- Ummul Mukminin, Hindun binti Abu Umayyah radhiallahu'anha
- Berbagai Fitnah dan Terbunuhnya Utsman bin Affan radhiallahu'anhu
- Orang Syi'ah Tarawih Letakkan al Qur'an dikepala
- Waktu-Waktu Do'a Mustajab
- Lima Hal yang Diingat Umar bin Khattab ra Atas Kecerewetan Istri
- Bahagia dan Rasa Puas??

Sabtu, 29 Maret 2014

Aisyah Kalah oleh Hafshah


Kisah ini adalah salah satu kisah yang paling ana suka diantara kisah-kisah cemburunya Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu'anha.

Kisah ini menceritakan tentang kalahnya Aisyah radhiallahu'anha dari Hafshah radhiallahu'anha. Kita tahu bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sangat mencintai Aisyah dibandingkan istri-istrinya yang lain. Hal itu pun telah diketahui oleh khalayak umum. Dan dikarenakan rasa cinta Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam kepada Aisyah maka dalam perjalanan yang didampingi oleh Aisyah dan Hafshah, Rasulullah lebih sering mengunjungi tenda Aisyah (yang ada diatas unta) dari pada Hafshah. Karena hal tersebut Hafshah lalu mengajukan ingin bertukar tempat dengan Aisyah. Di karenakan Aisyah sangat lugu dan jujur, dia pun menyetujui keinginan Hafshah, maka dimulailah kisah yang lucu dan penuh hikmah ini.

"Diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu'anah, dia berkata: Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam apa bila hendak melakukan perjalanan, beliau selalu mengadakan undian di antara istri-istrinya, lalu keluarlah undian tersebut untuk Aisyah dan Hafshah sehingga mereka berdua berangkat bersama beliau. Pada suatu malam, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berjalan bersama Aisyah untuk bercakap-cakap dengannya. Suatu kali berkatalah Hafshah kepada Aisyah:  'Maukah kamu malam ini menunggangi untaku dan aku menunggangi untamu sehingga kamu dapat melihatku, begitu juga aku.' Aisyah menjawab: 'Baiklah.' Maka Aisyah lalu menunggangi unta milik Hafshah dan Hafshah menunggangi unta Aisyah. Lalu datanglah Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengahampiri unta Aisyah yang ditunggangi oleh Hafshah kemudian mengucapkan salam dan berjalan bersamanya sampai mereka turun kembali. Tiba-tiba Aisyah merasa kehilangan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan merasa cemburu. Ketika mereka turun berhenti, mulailah Aisyah menendangkan kakinya ke tumbuh-tumbukan izkhir yang harum baunya sambil berkata: 'Ya Tuhanku! Semoga ada kalajengking atau ular yang mengigitku sedang aku tidak dapat mengatakan sesuatu apapun kepada Rasul-Mu." (HR. Muslim no. 2445, dalam kitab Fadhaa'ilu as-Shahaabah, bab Fadhaa'ilu Aisyah radhiallahu'anha)

Seperti diketahui bahwa tidak ada satupun dari istri-istri Rasulullah yang dapat menyaingi rasa cinta Rasulullah terhadap Aisyah, namun kali ini Aisyah harus mengalah karena taktik Hafshah yang juga ingin mendapatkan keberkahan yang sama dari Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Dan dikarenakan kekalahannya ini, Aisyah radhiallahu'anha sampai rela memasukkan kakinya kedalam semak agar digigit kalajengki atau ular agar Aisyah memiliki alasan untuk bisa memanggil Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Begitulah, rasa cemburu yang masuk ke hati para Ummahatul Mukminin, namun Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberi mereka kemampuan untuk bisa mengontrol rasa cemburu itu hingga tidak mencelakakan madunya. Dan kecemburuan diantara istri itu hal yang biasa terjadi pada rumah tangga yang berpoligami. Rasa cemburu itu biasa dan tidak perlu dicela.

Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Kalaulah Bukan Karena Allah Menutupi Aib-Aib Kita
- Hafshah binti Umar radhiallahu'anha
- Lagi-Lagi Ulama Syi'ah Terbongkar Kebodohannya
- Kisah Sahabat yang Memuliakan Tamu Rasulullah
- Saat Rasulullah Pergi
- Haramnya Melakukan TAKHBIB (menggoda) Istri Orang Lain
- Renungan Cinta Untuk Para Istri
- Nasehat Kepada Anak Perempuan Saat Pernikahannya
- Nikah Mut'ah Dengan Adik Sendiri di Hotel
- Sesatnya Syi'ah: Khomeini Mut'ah dengan Anak Kecil

Minggu, 23 Maret 2014

Hafshah binti Umar radhiallahu'anha


Ummahatul Mukminin Hafshah binti Umar bin Khattab radhiallahu'anha, seorang istri dan wanita ahli puasa dan tahajjud yang menjadi istri Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam di surga.

Keluarga Hafshah binti Umar
Ayahnya adalah Al-Faruq. Seorang laki-laki yang tumbuh dalam kesederhanaan, kesederhanaan yang berbasis kekuatan, dan kekuatan yang berbasis keadilan dan kasih sayang. Dia adalah laki-laki yang dilahirkan oleh bani Jazirah Arab dan dipelihara oleh Islam.

Ibu Hafshah radhiallahu'anha adalah Zainab binti Mazh'un, saudara perempuan dari seorang sahabat Rasulullah shallallahu'alahi wasallam yang utama, Utsman bin Mazh'un radhiallahu'anhu, yang ketika dia meninggal dunia, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mendatangi dan menciumnya sampai air mata beliau mengalir membasahi pipi Utsman. Dialah yang paling pertama dikuburkan di pemakaman kaum musimin. Dialah yang ketika putri Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam meninggal, beliau berkata kepadanya; "Ikutilah orang terbaik yang telah mendahului kita, Utsman bin Mazh'un." (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Sa'ad dan Al Hakim, dia tidak berkata apa-apa tentang kedudukan hadits ini. Sedangkan menurut Adz-Dzahabi, sanadnya baik)

Bibi Hafshah radhiallahu'anha adalah Fatimah binti Khattab radhiallahu'anha. Dia termasuk wanita yang paling pertama masuk Islam bersama suaminya Sa'id bin Zaid, satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga.

Saudara Hafshah radhiallahu'anha adalah seorang ahli ibadah yang zuhud, bertaqwa, wara' dan ahli ilmu. Dialah Abdullah bin Umar radhiallahu'anhu yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam; "Abdullah adalah laki-laki yang shalih." (Hadits Muttafaq alaihi; diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3741) dalam kitab Al-Manaaqib, bab Manaaqib Abdullah bin Umar Ibn al-Khattab, dan Muslim dalam kitab Fadhaa'il as-Shahaabah, bab Fiqh Fadh'ail Abdullah Ibn Umar al-Khattab)

Ibunda Aisyah radhiallahu'anha berkata tentang Abdullah bin Umar; "Aku tidak melihat orang yang lebih cepat menjalankan perintah dari pada Ibnu Umar." ("Sairu A'laim Nubala" karya Adz-Dzahabi (3/211)

Menjadi Ummahatul Mukminin
Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, Hafshah binti Umar radhiallahu'anha pernah menikah dengan Khunais bin Hudzafah, saudara dari Abdullah bin Hudzafah. Akan tetapi ketika terjadi Perang Badar, Khunais yang ikut dalam perang tersebut mendapat luka yang sangat banyak disekujur tubuhnya yang akhirnya sahabat yang utama ini menemui ajalnya setelah mengerahkan segenap jiwa dan raganya untuk membela agama Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Setelah meninggalnya Khunais bin Hudzafah, yang membuat Hafshah binti Umar radhiallahu'anha menjadi janda. Umar bin Khattab radhiallahu'anhu pun ikut sedih dan sakit hatinya melihat putrinya Hafshah menjadi janda pada usianya yang masih sangat belia, yaitu pada usia delapan belas tahun.

Dia khawatir, posisi putrinya sebagai janda akan membunuh masa mudanya, merusak keceriaannya dan mengganggu kebeliaannya. Dia pun senantiasa merasakan kesedihan yang sangat dalam setiap kali masuk ke dalam rumahnya dan menyaksikan putrinya larut dalam kesedihannya. Setelah berpikir panjang, dia pun berinisiatif untuk mencarikan suami pengganti untuk Hafshah radhiallahu'anha. Umar bin Khattab mencoba menghubungi para teman dekatnya.

Pertama kali dia menawarkan putrinya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu'anhu, namun Abu Bakar tidak memberikan jawaban apa-apa. Dia lalu menawarkannya kepada Utsman bin Affan radhiallahu'anhu, namun Utsman berkata, 'Nampaknya aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat.' Umar begitu terpukul oleh sikap kedua sahabatnya itu. Sehingga diapun mengadukan hal itu kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Tak disangka, Rasulullah berkata kepadanya; "Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih dari Utsman dan Utsman akan menikahi orang yang lebih baik dari Hafshah." Lalu Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam meminang Hafshah untuk dirinya. Maka Umar pun menikahkan putrinya dengan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (9/152-153) dalam bab An-Nikah, dan Ibnu Sa'ad dalam kitab "Ath-Thabaqaf (8/82)

Kemudian Rasulullah pun menikahkan Utsman bin Affan dengna putrinya Ummu Kultsum setelah wafatnya saudari Ummu Kultsum, Ruqayyah.

Ketika Umar telah menikahkan Hafshah dengan Rasulullah. Abu Bakar datang kepadanya untuk meminta ma'af. Dia berkata, 'Jangan marah kepadaku. Karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah menyebut akan menikahi Hafshah. Dan aku tidak ingin membocorkan rahasia beliau. Kalau saja Rasulullah tidak ingin menikahinya, aku pasti akan menikahinya.' (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5122) dalam kitab An-Nikah, bab Aradhu al-Insaan Ibnatahu au Ukhtahu 'Alaa Ahli Al-Khair. Ini adalah potongan dari hadits sebelumnya)

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menikahi Hafshah pada tahun ketiga hijriah sebelum terjadi Perang Uhud dan beliau memberinya mahar sebesar empat ratus dirham. Pernikahan tersebut merupakan kehormatan dan kebaikan yang luar biasa bagi Hafshah dan ayahnya Umar bin Khattab radhiallahu'anhuma.

Kedudukannya yang Mulia
Hafshah binti Umar radhiallahu'anha menempati posisi yang mulia di dalam hati Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Bahkan kedudukannya dibandingkan para istri Rasulullah yang lain juga termasuk lebih tinggi.

Sehingga ibunda Aisyah radhiallahu'anha pernah berbicara tentang Hafshah; 'Dialah yang menyaingiku diantara para istri Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.' ("As-Sair" karya Adz-Dzahabi (2/227)

Namun kehidupan para istri Rasulullah radhiallahu'anhuma memang tidak sepi dari perasaan mereka sebagai manusia biasa. Mereka juga memiliki rasa cemburu dan saling berlomba mendapatkan perhatian Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan cintanya. Karena itu Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berusaha meredam hal itu lewat ajaran agama di rumahnya bersama para istrinya, para sahabatnya dan umatnya. Beliau berusaha merangkul semua pihak untuk mengantarkan mereka kepada jalan kebaikan.

Berikut ini adalah situasi yang menjelaskan kepada kita bagaiman rasa cemburu diantara para istri Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam itu terkadang mencuat ke permukaan. Kemudian kita juga akan melihat bagaiman cara Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam meredam persoalan itu dengan penuh kebijaksanaan dan kasih sayang.

Dalam kitab shahih Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Aisyah radhiallahu'anha, dia berkata: "Bahwa Nabi shallallahu'alaihi wasallam berada di rumah Zainab binti Jahsy, lalu di sana beliau meminum madu. Kemudian aku dan Hafshah bersepakat, siapa pun diantara kami berdua yang ditemui Nabi shallallahu'alaihi wasallam, ia harus mengatakan kepada beliau: 'Sesungguhnya aku mencium bau maghfir (pohon bergetah yang rasanya manis tapi berbau tidak sedap) darimu, apakah engkau telah memakannya?.' Kemudian beliau menemui beliau menemui salah seorang dari kami dan segera melontarkan pertanyaan terssebut kepada beliau. Beliau menjawab: "Tidak! Tetapi aku baru saja meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy. Aku t idak akan mengulanginya lagi." Maka turunlah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala: "Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kepadamu," sampai firman-Nya "Jika kamu berdua bertaubat." yaitu Aisyah dan Hafshah radhiallahu'anhuma. Sedang firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala: "Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) tentang suatu peristiwa," ialah berkenaan dengan sabda beliau: "Melainkan aku baru saja meminum madu." (Hadits Muttafaq alaihi. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4912) dalam kitab Tafsir Al-Qur'an, bab "Yaa Ayyuha an-Nabiyy, Lima Tuharrima maa Ahallallahu Laka", dan Muslim (1474) dalam kitab At-Thalaaq, bab Wujub al-Kaffaarah 'alaa Man Harraman Imra'atahu wa lam Yanwa al-Thalaaq.)

An-Nasa'i dan Al-Hakim meriwayatkan dari hadits Anas radhiallahu'anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam memiliki seorang budak perempuan yang digaulinya. Aisyah dan Hafshah radhiallahu'anhuma selalu mempersoalkan itu sampai Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengharamkan budak perempuan itu atas dirinya. Maka Allah Subhanahu WaTa'ala menurunkan ayat:
"Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (At-Tahrim: 1)

Berpacu Dalam Memperoleh Ridha Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam
Hafshah binti Umar radhiallahu'anha hidup bersama Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dalam suasana yang bahagia. Fase itu merupakan fase terbaik dari hidupnya. Setiap hari semakin bertambah ilmunya, pemahaman agamanya dan ketaatannya kepada Allah Ta'ala. Bagaimna tidak, dia langsung mendapat asupan dari sumber yang murni.

Dia selalu berlomba dengan para istri Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam untuk memperoleh ridha beliau. Dia tidak pernah berhenti berusaha untuk memasukkan kebahagiaan kedalam hati Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, menjadikannya semakin dekat kepada Allah Ta'ala. Dia Banyak belajar dari Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam tentang ketaatan beliau kepada Allah yang membuatnya semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta.

Sesungguhnya Hafshah Adalah Istri Rasulullah di Surga
Suatu hari Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pernah menjatuhkan talak atas Hafshah radhiallahu'anhu. Maka hatinya terasa remuk dan dunia terasa gelap gulita. Dia tidak percaya bahwa suaminya yang amat dicintai dan juga nabinya itu telah menjatuhkan talak atasnya. Tiba-tiba datang Malaikat Jibril menyuruh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam kembali kepada Hafshah.

Diceritakan dalam sebuah hadits bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menjatuhkan talak satu atas Hafshah, Kemudian Beliau kembali kepadanya atas suruhan Malaikat Jibril. Jibril berkata: 'Dia adalah ahli puasa, ahli tahajjud dan akan menjadi istrimu di surga.' (Diriwayatkan oleh Abu Daud (2283) dan Ibnu Majah (2016). Al-Arna'uth berkata: 'Ini hadits shahih')

Dikutip dari Buku Wanita Pilihan di Zaman Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, bab Hafshah binti Umar radhiallahu'anha, karangan: Syaikh Muhammad Hasan, penerbit: Pustaka as-Sunnah, Jakarta.
--------------

Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Lagi-Lagi Ulama Syi'ah Terbongkar Kebodohannya
- Rumah Tangga Nabawi
- Aqidah Syi'ah Tentang Taqiyyah
- 52 Kiat Agar Istri Makin Sayang
- "Madu" itu Pahit
- Neraka, Kematian dan Hari Kiamat
- Potrer Hinanya Kaum Wanita Dimata Syi'ah
- Saudariku, Milikilah Sedikit Rasa Malu

Senin, 17 Maret 2014

Jadilah Pema'af


Bismillahirrahmanirrahim...

Firman Allah ta'ala,

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (QS: Al-A'raf Ayat: 199)

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu'alaihi wassalam sedang duduk, tiba-tiba beliau tertawa sehingga tampaklah gigi-gigi serinya.

Maka sahabatnya Umar Radiallahu'anhu. kebingungan dan bertanya, “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, apakah yang membuatmu tertawa?”

Beliau menjawab, “Ada dua lelaki dari umatku yang dikumpulkan di hadapan Rabbul Izzah, Allah Ta'alla.


Salah satu di antaranya berkata, ‘Wahai Rabb, ambilkanlah hakku yang dizhalimi oleh orang ini!’

Maka Allah Ta'alla berfirman, 'Kembalikan hak saudaramu yang telah engkau zhalimi!’

Orang itu berkata, ‘Wahai Rabb, tidak ada lagi kebaikan yang tersisa.’

Yang seorang lagi berkata, ‘Wahai Rabb, biarlah dia menanggung sebagian dari dosa-dosaku!’

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam mencucurkan air matanya, kemudian bersabda, “Sungguh, hari itu adalah hari yang berat. Pada hari itu manusia perlu dipikulkan dosa-dosanya.”

Maka Allah Ta'alla berfirman kepada orang yang dizhalimi itu, “Angkatlah matamu dan perhatikanlah surga-surga itu!”

Orang itu berkata, “Wahai Rabb, aku melihat kota-kota dari perak dan istana-istana emas yang ditaburi mutiara. Untuk nabi, orang shaddiq, atau syahid yang mana semua ini?”

Allah Ta'alla berfirman, “Ini semua untuk siapa saja yang membayar harganya.”

Orang itu berkata, “Wahai Rabb siapa pula yang memiliki (harga)nya?”

Allah berfirman, “Engkau memilikinya.”

“Dengan apa, wahai Rabb?” tanyanya.

“ Dengan pemberian maafmu kepada saudaramu.”

“Wahai Rabb, aku telah memaafkannya.”

Allah Ta'alla berfirman, “ Peganglah tangan saudaramu itu, lalu bawalah ia memasuki surga.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda, "IttaquLLaha wa ashlihuu dzaata bainikum, fa innaLLaha ta’ala yushlihu bainal mu’miniina yaumal qiyamati."
(“ Hendaklah kalian bertaqwa kepada Allah dan memperbaiki hubungan di antara sesama kalian, karena sesungguhnya Allah memperbaiki hubungan di antara orang-orang yang beriman pada hari kiamat.”)


(HR. Hakim dari Anas bin Malik Radiallahu anhu)


Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Surat Cinta untuk Pembenci Arab Saudi
- Saat Hidayah Menyapa
- Karena Allah yang Menyuruhmu!!
- Jangan Tunda Taubatmu!!
- Bila Kalian Mengetahui, Jawablah Adzan itu
- Umar bin Khattab radhiallahu'anhu
- Renungan Malam sang Ibu

Minggu, 16 Maret 2014

Surat Cinta untuk Pembenci Arab Saudi


Untukmu yang suka memfitnah dan mencari aib saudaramu sendiri...
Bagi Yang Membenci SAUDI, Bacalah Surat Cinta ini...

Negeri saudi arabia bukanlah khilafah di zaman para Sahabat radhiallahu anhum dan rajanya juga bukanlah Mu’awiyyah bin Abu Sufyan-radhiallahu anhuma demikian juga ulamanya bukanlah Ibnul Musayyib, bukan pula Ibnu Sirin ataupun Sulaiman bin Yasar bahkan tidak pula mendekati derajat Al Imam Asy Syafi’i ataupun Al Imam Al Auzai rahimahumullah.

Kalau kalian mencari-cari kesalahannya niscaya kalian pasti akan mendapatinya sangat banyak, bahkan bukankah kesalahan-kesalahan sudah menjadi tabi’at manusia?

Jika engkau terus-menerus mencari-cari kesalahan saudaramu sama saja jika engkau memaksanya menjadi malaikat, sesuatu yang mustahil bukan?

Wahai Saudaraku…

Negeri Saudi Arabia bukanlah Khilafah di zaman para Sahabat radhiallahu anhum dan rajanya juga bukanlah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah demikian juga ulamanya bukanlah Urwah bin Zubair, bukan pula Al Hasan Al Bashri ataupun Muhammad bin Syihab, bahkan tidak pula menghampiri derajat Al Imam Ahmad ataupun Imam Sufyan Ats Tsauri rahimahumullah.

Kalau kalian membandingkan negeri yang sempurna seperti negerinya Umar bin Al Khaththab atau pemimpin setegar Utsman bin Affan radhiallahu'anhuma maka sungguh di mata kalian negeri Saudi Arabia saat ini hanyalah sampah.

Tapi wahai saudaraku…

Tunjukkan kepadaku negeri manakah yang saat ini lebih baik dari Kerajaan Saudi Arabia?

Di negeri tersebut Tauhid diserukan, Sunnah di da’wahkan, hukum Had ditegakkan, ketika adzan dikumandangkan pasar-pasar menjadi sepi, para pedagang meninggalkan dagangannya kemudian menyusun shaf menyambut panggilan Allah ‘Azza Wa Jalla.

Sungguh ini adalah miniatur sebuah negeri yang mencoba menegakkan Syariat Islam semampu mereka.

Sekali lagi wahai saudaraku…

Yang baik aku tekankan bahwa negeri Saudi Arabia bukanlah Khilafah di zaman para Sahabat radhiallahu'anhum dan rajanya juga bukanlah Sulaiman bin Abdul Malik rahimahullah, demikian juga ulamanya bukanlah Fudhail Ibnu Iyyadh, bukan pula Sa’id bin Jubair ataupun Atha’ bin Abi Rabah bahkan tidak pula menghampiri derajat Al Imam Al Bukhari ataupun Imam At Tirmidzi rahimahumullah.

Wahai Saudaraku…

Sangatlah mengherankanku ketika kalian mengatakan Saudi Arabia tidak peduli dengan kaum Muslimin, baik yang di Suriah, Palestina, Mesir maupun di belahan dunia yang lainnya.

Sungguh aku tak tahu apakah yang telah membutakan matamu sehingga tidak mampu melihat dan membaca berbagai penebaran kebaikan dan bantuan dari Pemerintah dan Rakyat Saudi Arabia di seluruh penjuru dunia.

Milyaran rupiah digelontorkan untuk pengungsi Suriah, bahkan Saudi memasok senjata, mortir maupun anti tank kepada kaum muslimin di Suriah yang sedang berperang dengan kaum kafir Syi’ah Raafidhah dan sekutunya.

Sangat mengherankan ketika dengan mudahnya kalian menemukan berbagai berita tapi kok bisa berita seperti ini terlewatkan, dari ketukan jarimu di atas tablet atau smartphone yang engkau pakai?

Wahai Saudaraku….

Sungguh sangat menakjubkan ketika engkau tidak tahu Milyaran rupiah yang dikucurkan Saudi kepada warga Palestina, sementara di saat yang sama engkau mampu mencari dan mengekspos kesalahan dan kejelekan pemerintah Saudi.

Bahkan ketika bantuan itu berada di depan mata kalian, di negeri kita yang tercinta ini, Nusantara negeri seribu pulau, ketika Tsunami memporak-porandakan Aceh sembilan tahun yang lalu, ketika media masa ribut menggembor-gemborkan bantuan yang berupa pinjaman dengan bunga dari negeri-negeri kafir, diam-diam pemerintah dan rakyat saudi telah memberikan bantuan jutaan dolar dalam bentuk hibah alias gratis bin cuma-cuma.

Tertutupkah mata kalian dari itu semua, jika kalian melakukan celaan tersebut karena ketidaktahuan maka alangkah baiknya jika kita diam dari sesuatu yang kita tidak mengetahuinya.

Adapun jika celaan itu muncul karena dorongan kebencian maka sungguh aku hanya bisa meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar melembutkan hati-hati kita.

Wahai Saudaraku…

Sungguh kebaikan pemerintah negeri Haramain sangatlah banyak, bahkan yang menyedihkanku bahwa mereka orang-orang yang sangat keras permusuhan dan kebenciannya terhadap pemerintah Saudi. Mereka berani menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan yang buruk.

Ternyata di saat yang sama di masa lalu mereka pernah menikmati fasilitas dan berbagai kebaikan dari pemerintah Saudi.

Tanyalah Sa’id Aqil Siraj berapa banyak uang dan bantuan Saudi yang masuk ke kantong dan perutnya? yang di saat dia mencela Saudi yang telah memberinya beasiswa bahkan gaji sehingga dia bisa bergelar doktor.

Sekarang dia justru membangga-banggakan negeri Iran, negerinya Ayatusy-syaithan Khomeini yang telah mencela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Dengan mengatakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah gagal dalam mewujudkan keadilan, dia memuji Iran negerinya para kaum Syi’ah yang mencela Abu Bakar, ‘Umar dan Ibu kita Aisyah dan Hafshah radhiallahu'anhum.

Wahai Saudaraku….

Tanyalah kepada para tokoh-tokoh PKS yang banyak kadernya serta saudaranya dari Ikhwanul Muslimin begitu membenci Saudi?

Tanyalah Hidayat Nur Wahid, Anis Matta dan lainnya berapa banyak duit dan bantuan dari Saudi yang mereka nikmati ketika bersekolah di Saudi Arabia atau ketika sekolah di LIPIA?

Demikian juga dengan orang-orang NU yang banyak mendapatkan bantuan dana dari Kerajaan Saudi Arabia?

Wahai Saudaraku…

Bukalah mata kalian terlebih mata hati kalian, kalian mendukung bahkan teriak-teriak memberi dukungan kepada para pejuang di Suriah yang memerangi Basyar Ashad tapi di saat yang sama kalian justru tidak berterima kasih bahkan mencela negeri Saudi Arabia yang jika bukan karena Allah ‘Azza Wa Jalla dan kemudian kesigapan Kerajaan Saudi Arabia mengirimkan bantuan Militer kepada Kerajaan Bahrain maka saat ini mungkin saja Bahrain telah dipimpin oleh orang yang beragama sama dengan Basyar Ashad sehingga tragedi Suriah bisa saja terulang di Bahrain.

Lihatlah wahai saudaraku, jika bukan karena Allah ‘Azza Wa Jalla kemudian dukungan dan fatwa para Ulama Saudi Arabia serta bantuan Dana dari pemerintah Kerajaan Saudi Arabia maka saat ini mungkin saja agama Ahmadiyyah Qadiyaniyyah telah menjadi agama resmi Negeri Pakistan.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla merahmati Asy Syaikh Tsanaullah Amru Tisri seorang Salafy yang telah membantah dan melayani Mirza Ghulam Ahmad untuk bermubahalah sehingga Mirza mati dalam keadaan mengenaskan sementara Asy Syaikh Tsanaullah masih hidup bertahun kemudian.

Apakah kalian tidak mengetahui hal itu? Kalau begitu itu sungguh sangat mengejutkan!

Wahai Saudaraku ….

Kesalahan pemerintah Saudi mungkin sangatlah banyak tapi kebaikannya juga sangatlah banyak.

Tak cukup surat singkat ini untuk membeberkan semuanya, maka mari mampir sejenak untuk membaca tulisan ini.

BANTUAN SAUDI ARABIA NEGERINYA WAHHABI KEPADA KAUM MUSLIMIN DI SELURUH DUNIA

Dan itu hanyalah sedikit dari banyaknya kebaikan negeri yang mulia dan penuh berkah ini yang sekali lagi aku katakan bahwa negeri ini juga punya banyak kesalahan, tapi syukurilah ni’mat ini karena masih ada negeri yang semisal Saudi Arabia.

Adapun kesalahannya perbaikilah sesuai dengan tuntunan Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan mintakanlah ampun kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

Syukurilah ni’mat ini bahwa masih ada negeri yang di dalamnya tegak hukum Had, Shalat berjama’ah ditegakkan, Rumah-rumah ibadah kaum kafir dilarang untuk didirikan, amar ma’ruf nahi mungkar dilaksanakan dan dianjurkan.

Syukurilah maka mungkin saja Allah ‘Azza Wa Jalla akan menganugerahkan kita ni’mat yang lebih besar yakni Khilafa di atas Minhaj Nubuwwah.

Adapun jika kita memngigkari ni’mat ini maka sungguh aku sangat mengkhawatirkan musibah akan terus menerus menghantam kita, dan terpecahbelahnya kekuatan kaum muslimin disaat ini adalah musibah yang sangat besar dan realita yang sedang terjadi.

Wahai Saudaraku ….

Tersisa pertanyaan untuk diriku dan untuk kalian, ketika kalian sibuk mencela Salafiyyun dengan mengatakannya tidak peduli dengan kaum muslimin, aku jadi ingin bertanya, “di manakah kalian berada ketika kaum Muslimin sedang dibantai di Ambon dan Poso dan apa yang kalian lakukan saat itu, atau jangan-jangan kalian justru bergabung dengan banser NU yang hendak menghalangi kaum muslimin salafiyyun yang hendak berangkat ke Ambon menolong kaum Muslimin di sana dengan bertaruh nyawa. Di mana kalian dan apa yang kalian lakukan saat itu?”

Di saat kalian mencela Negeri Haramain yang telah menggelontorkan dana milyaran dolar bagi kaum muslimin di seluruh dunia apa yang telah kalian sumbangkan untuk Islam dan Kaum Muslimin?

Berapa rupiah yang telah kalian sumbangkan ke penduduk Suriah?
Palestina dan lainnya?

Bahkan berapa rupiah yang telah kalian sumbangkan kepada Saudara-saudara kalian di Aceh? Yogyakarta?

Bahkan berapa rupiah yang kalian sumbangkan kepada sanak saudara kalian yang membutuhkan?

Bahkan berapa rupiah yang telah kalian sumbangkan untuk pembangunan Masjid di tempat kalian?

Atau jangan-jangan Masjid di tempat kalian pun ternyata adalah salah satu dari puluhan bahkan ratusan Masjid di Nusantara ini yang merupakan bantuan dari Negeri Haramain Saudi Arabia?

Jangan sampai doa pun kita lupa panjatkan buat saudara-saudara kita yang menderita dan tertindas di Palestina, Suriah, Somalia, dan Negeri lainnya.

Dan jangan sampai kitapun menjadi tong kosong yang nyaring bunyinya…

Sungguh Gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak…

Kita teriak-teriak bak pahlawan kesorean tapi ternyata sumbangsih kita untuk islam dan kaum muslimin adalah NOL BESAR…

Demikianlah surat cinta ini dibuat, semoga kita semua bisa intropeksi diri...
-----------

Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Saat Hidayah Menyapa
- Karena Allah yang Menyuruhmu!!
- Jangan Tunda Taubatmu!!
- Imam Syi'ah Muqtadha Ash Shadr: Zina Bareng di Husainiyah Penuh Berkah
- Mujahidah di Medan Laga
- Hadits Tentang Wanita
- Hak-Hak Istri yang Harus Ditunaikan Oleh Suami

Sabtu, 15 Maret 2014

Karena Allah yang Menyuruhmu!!


Untukmu ukhti Muslimah, kemana akan kau bawa dirimu...??
kepada gemerlapnya dunia...??
Gemilaunya harta...??
atau ketampanan sesorang pria...??
Walaupun kau harus membuka hijabmu demi mendapatkan semua apa yang kau inginkan??

Maka kehinaan yang kau dapatkan!!

Wahai saudari muslimah...

Siapa kah yang menyuruhmu untuk berjilbab...??

Untukmu ukhti muslimah, kemanakah kau akan bawa dirimu...??
Kepada kemulian jiwa..??
Kepada keridhaan sang pencipta...??
atau mulianya menjadi bidadari surga...??
Walaupun hinaan dan cacian yang harus kau terima demi menjaga hijabmu yang telah di syari'atkan oleh agama, maka kebahagiaan yang kau dapatkan!!

Katakan tidak pada gemerlapnya dunia!!
Jika hijabmu harus terlepas karenanya..
 

Katakan tidak pada kemilaunya harta!!
Jika hijabmu harus menjadi tebusannya...
Karena hijabmu adalah benteng kemuliaan dirimu...

Bawasanya yang menyuruhmu untuk berjilbab...

yang menyuruhmu berbusana muslimah...
yang menyuruhmu ialah Allah dan Rasul-Nya...
dan konsekwensi kita sebagai seorang muslim maupun muslimah wajib taat pada Allah Ta'ala....!!

Karena Allah yang menciptakan kita...
Allah yang memberikan rizki pada kita...
Allah yang memberikan segalanya pada kita..
Al-Quran yang menyuruh kita untuk berjilbab...
Allah yang menciptakan kita yang menyuruh kita untuk berjilbab!!

"Hai Nabi katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal, karena itu mereka tidak di ganggu dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang." (QS. Al-Azhab: 59)

Jika sesorang manusia (wanita muslimah)...
Tidak berbusana muslimah.. Tidak berjilbab..
Maka manusia akan rusak dan hancur.. 

Akan binasa...!!

Setiap wanita tidak ada udzur (tidak ada alasan) untuk tidak memakai busana muslimah...!!!


(dikutip dari jeda Radio Rodja 756 AM)

Artikel : My Diary

Baca Juga:
- Bukan untuk Memberatkan Kalian
- Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam Dibenci Karena Aqidahnya
- Sikap Yahudi Bila Diajak Masuk Islam
- Jilbabku, Penutup Auratku
- Kemuliaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu'anhu
- Ta'ati Suamimu, Surga Bagimu
- Dampak Buruk Nikah Mut'ah
- Nasehat untuk Putriku

Minggu, 23 Februari 2014

Kisah Kalung Permata dan Gadis Cantik


Ibnu Abi Al-Fawaris berkata, "Aku pernah mendengar Abu Bakar bin Abdul Baqi bercerita, 'Aku tinggal di Makkah. Suatu hari, rasa lapar menderaku. Tidak ada sesuatu pun yang dapat kumakan untuk mengusir rasa lapar itu. Aku pun keluar rumah untuk mencari sesuatu. Tiba-tiba aku melihat kantong sutra yang diikat dengan tali pita sutra tergeletak di jalanan. Kantong itu kemudian kuambil dan ku bawa ke rumah. Sesampainya di rumah, aku buka tali ikat kantong itu dan ternyata didalamnya berisi kalung permata yang sangat indah.

Seingatku, belum pernah aku melihat kalung seindah itu seumur hidupku. Aku lalu keluar lagi untuk mencari sosok pemilik kantong itu. Dari jauh kulihat seorang laki-laki tua sedang membawa sekantong uang sambil berteriak-teriak, "Siapa pun yang menemukan sebuah kantong yang berisi kalung permata, maka uang 500 dinar ini sebagai hadiah bagi yang mengembalikannya kepadaku." Hatiku berbisik, "Saat ini aku sedang kelaparan. Kebetulan kantong laki-laki tua itu ada padaku. Alangkah baiknya bila kantong itu kuberikan kepadanya dan ia memberiku uang 500 dinar. Lalu, uang itu dapat kubelikan makanan."

Aku segera memanggil laki-laki tua itu, "Hei kakek, ke sini!" Aku lalu membawa kakek itu ke rumahku. Ia kemudian menyebutkan ciri-ciri kantongnya yang hilang, mulai dari warnanya, tali pengikatnya dan jenis kalung permata yang ada di dalamnya. Semua ciri yang disebutkan oleh si kakek persis seperti kantong yang kutemukan. Akupun mengambil kantong itu dan memberikannya kepada si kakek. Dengan wajah senang, si kakek kemudian memberikan kepadaku uang 500 dinar sebagai hadiah. Tetapi aku menolaknya.

Aku berkata kepadanya, "Sudah menjadi kewajibanku mengembalikan kantong ini kepada pemiliknya. Karenanya, tidak pantas aku memungut hadiah apa pun darinya." Kakek itu berkata, "Kamu harus terima uang ini." Ia terus mendesakku untuk menerima uang itu, tetapi aku tetap menolaknya. Si kakek kemudian pergi.

Beberapa tahun kemudian, aku keluar dari Makkah dan menaiki perahu. Sampai di tengah laut, ombak raksasa menerpa perahu yang kunaiki, sehingga perahu pun pecah dan semua penumpang tenggelam. Barang-barang muatan juga ikut musnah ditelan ombak raksasa itu.

Allah masih melindungiku. Dari semua penumpang, hanya aku yang selamat dengan berpegangan pada kayu pecahan perahu tersebut. Dengan kayu itu, aku berusaha mencari daratan. Tidak tahu kemana arah yang hendak kutuju. Akhirnya, aku terdampar di sebuah pulau yang berpenghuni. Aku pun mencari sebuah masjid di pulau itu. Setelah ketemu, aku menunaikan sholat dan membaca Al-Qur'an. Tanpa disangka-sangka, setiap orang yang masuk ke masjid pasti mendekatiku untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'anku. Selesai membaca, sebagin dari mereka berkata kepadaku, "Ajari kami membaca Al-Qur'an."

Dengan senang hati, aku pun mengajari semua jamaah di masjid itu cara membaca Al-Qur'an yang baik. Dari kegiatan mengajar itu, aku diberi uang yang sangat banyak oleh mereka. Beberapa waktu kemudian, aku mencoba mengamati tulisan khat pada Al-Qur'an di masjid itu. Tiba-tiba, mereka bertanya kepadaku, "Apakah kamu bisa menulis khat yang baik?" Aku menjawab, "Insya Allah bisa." Mereka berkata, "Kalau begitu, ajarilah kami cara menulis khat yang baik." Bahkan, semua anak kecil dan para pemuda di pulau itu ikut belajar menulis khat, sehingga tabungan uangku semakin banyak.

Pada suatu kesempatan, mereka mendekatiku dan berkata, "Di pulau kami ini ada seorang gadis yatim. Ia berwajah cantik dan memiliki harta yang banyak. Kami ingin engkau menikahi gadis itu." Mendengar tawaran itu, aku menolaknya. Mereka berkata, "Pokoknya engkau harus menikahinya." Mereka terus mendesakku, sehingga aku pun menerima tawaran mereka.

Keesokan harinya, gadis tersebut dirias dan diperlihatkan kepadaku. Dengan perasaan malu, aku mencoba mengangkat pandanganku ke wajahnya. Aku sangat kaget karena kalung yang dulu pernah ketemukan ternyata berjuntai indah di leher gadis itu. Perhatianku pun hanya tertuju pada kalung itu. Tiba-tiba, mereka mengagetkanku, "Wahai guru, hati gadis ini hancur lantaran engkau hanya memperhatikan kalungnya dan tidak memperhatikan wajahnya." Aku pun menceritakan kepada mereka mengenai ihwal kalung itu. Tiba-tiba mereka semua berteriak mengumandangkan tahlil dan takbir hingga seluruh penduduk pulau itu berkumpul.

Didorong rasa heran, aku bertanya kepada mereka, "Ada apa dengan kalian?" Mereka menjawab, "Kakek tua yang mengambil kalung darimu itu adalah ayah gadis ini. Ia pernah berkata, 'Di dunia ini aku belum pernah melihat seorang muslim yang lebih baik daripada laki-laki yang mengembalikan kalung ini kepadaku.' Ia juga berdo'a, 'Ya Allah, pertemukan lagi aku dengan laki-laki itu dan akan kunikahkan ia dengan putriku.' Dan sekarang, apa yang menjadi harapannya telah dikabulkan oleh Allah."

Aku ikut terharu mendengar cerita mereka. Aku pun menikahi gadis itu dengan dianugerahi dua anak. Tidak lama setelah itu, gadis yang sudah menjadi istriku itu meninggal dunia, sehingga kalung permatanya diwariskan kepadaku dan dua anakku. Selang beberapa tahun kemudian kedua anakku juga meninggal dunia, sehingga kalung permata itu diwariskan kepadaku. Aku lalu menjual kalung itu seharga 100.000 dinar. Harta yang kalian lihat sekarang ini merupakan sisa dari uang itu."

Sumber: Buku Golden Stories, karangan: Mahmud Musthafa Sa'ad & Dr Nashir Abu Amir Al-Hamidi, penerbit: Pustaka Al-Kautsar Jakarta
------------

Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Canda
- Syi'ah Mencela Rasulullah
- Kecerdasan Abu Hanifah
- Zina Adalah Hutang
- Kalaulah Bukan Karena Allah Menutupi Aib-Aib Kita
- Kisah Nyata: Wanita Syi'ah Makassar Ajak Mut'ah Seorang Ikhwan
- Jagalah Lisan (Perkataan)
- Do'a Dapat Mengubah Takdir

Selasa, 18 Februari 2014

Rumah Tangga Nabawi


Uraian tentang rumah tangga Nabawi ini dapat kita paparkan menurut masing-masing dari istri-istri Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

1. Khadijah binti Khuwailid
Rumah tangga Nabawi yang dibangun di Makkah sebelum hijrah bersama Khadijah binti Khuwailid. Rasulullah menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun, sedangkan Khadijah sendiri berumur 40 tahun. Khadijah adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah. Selama membina rumah tangga dengan Khadijah, Rasulullah tidak menikah dengan wanita lain. Dari Khadijah inilah Rasulullah mendapatkan putra dan putri. Tapi tidak seorang pun dari putra Rasulullah yang hidup. Adapun putri-putri Rasulullah dari Khadijah adalah; Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fathimah. Zainab dinikahi oleh anak bibinya, Abul Ash bin Ar-Rabi', sebelum hijrah. Sedangkan Ruqayyah dan Ummu Kultsum dinikahi oleh Utsman bin Affan, tidak secara bersamaan. Sedangkan Fathimah dinikahi oleh Ali bin Abu Thalib pada waktu antara Perang Badr dan Perang Uhud. Dari pernikahan Fathimah dan Ali ini lahir Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum.

Sebagaimana yang sudah diketahui, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam berbeda dengan umatnya, dengan diperbolehkan bagi beliau untuk menikahi wanita lebih dari empat orang. Banyak tujuan dari pernikahan Rasulullah ini. Wanita yang pernah terikat perkawinan dengan Rasulullah ada tiga belas orang. Sembilan orang meninggal dunia sepeninggal beliau, dua orang meninggal dunia saat beliau masih hidup, yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah, ibu para fakir miskin. Dan dua istri yang belum pernah dijamah Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

2. Saudah binti Zam'ah
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menikahinya pada bukan Syawal tahun kesepuluh dari nubuwah, tepatnya beberapa hari setelah Khadijah meninggal dunia. Sebelumnya Saudah menikah dengan sepupunya sendiri yang bernama As-Sakran bin Amru, yang kemudian meninggal dunia.

3. Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam menikahinya pada bulan Syawwal tahun kesebelas dari nubuwah, selang setahun setelah menikahi Saudah atau dua tahun lima bulan sebelum hijarah. Rasulullah menikahinya saat Aisyah masih berusia enam tahun, lalu hidup bersama Rasulullah pada bulan Syawwal, tujuh bulan setelah hijrah ke Madinah, yang saat itu umurnya sembilan tahun. Aisyah adalah seorang gadis dan Rasulullah tidak menikahi gadis kecuali dengan Aisyah. Aisyah termasuk orang-orang yang amat dicintai Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan merupakan wanita yang paling banyak ilmunya di tengah umat.

4. Hafshah binti Umar bin Al-Khattab
Hafshah binti Umar bin Al-Khattab ditinggal mati suaminya, Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, pada waktu antara Perang Badr dan Uhud, lalu dinikahi Rasulullah pada tahun 3 H.

5. Zainab binti Khuzaimah
Zainab binti Khuzaimah berasal dari Bani Hilal bin Amir bin Sha'sha'ah, yang dijuluki Ummul Masakin (ibunda orang-orang miskin), karena kasih sayang dan kemurahan hatinya terhadap mereka. Sebelum itu Zainab adalah istri Abdullah bin Jahsy, yang mati syahid pada Perang Uhud, lalu dinikahi Rasulullah pada tahun 4 H. Namun dia meninggal dunia dua atau tiga bulan setelah pernikahan ini.

6. Hindun binti Abu Umayyah (Ummu Salamah)
Sebelumnya Hindun binti Abu Umayyah adalah istri Abu Salamah yang meninggal dunia pada bulan Jumdats Tsaniyah tahun 4 H, lalu dinikahi Rasulullah pada bulan Syawwal pada tahun yang sama.

7. Zainab binti Jahsy bin Rayyab
Zainab binti Jahsy bin Rayyab berasal dari Bani Asad bin Khuzaimah dan putri bibi Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sendiri. Sebelumnya dian adalah istri Zaid bin Haritsah, yang dianggap sebagai putra sendiri oleh Rasulullah. Zaid menceraikannya, lalu Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan ayat Al-Qur'an yang tertuju langsung kepada diri Rasulullah,
"Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia." (Al-Ahzab:37)
Ada juga beberapa ayat dari surat Al-Ahzab lainnya yang menjelaskan masalah anak angkat. Rasulullah menikahinya pada bulan Sya'ban 6 H.

8. Juwairiyah binti Al-Harits
Bapaknya adalah pemimpin Bani Mushthaliq dari Khuza'ah. Tadinya Juwairiyah ada diantara para tawanan Bani Mushthaliq, yang kemudian menjadi bagian Tsabit bin Qais bin Syamms. Lalu Rasulullah menebus dirinya dan menikahinya pada bulan Sya'ban 6 H.

9. Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah)
Sebelumnya Ramlah binti Abu Sufyan adalah istri Ubaidillah bin Jahsy. Bersama suaminya, dia hijrah ke Habasyah. Namun, disana Ubaidillah murtad dan masuk agama Nashrani dan juga mennggal disana. Sekalipun suaminya murtad, Ummu Habibah tetap teguh dalam Islam. Tatkala Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengutus Amr bin Umayyah Adh-Dhamiri untuk menyerahkan surat beliau kepada Raja Najasyi pada bulan Muharram 7 H, beliau juga menyampaikan lamaran kepadanya.

10. Shafiyah binti Huyai bin Akhtab
Shafiyah binti Huyai bin Akhtab berasal dari Bani Israil, yang sebelumnya dia salah seorang dari tawanan Khaibar. Lalu Rasulullah memilihnya untuk diri beliau sendiri, membebaskannya dan menikahinya setelah penaklukan Khaibar pada tahun 7 H.

11. Maimunah binti Al-Harits
Maimunah binti Al-Harits adalah Ummu Fadl, Lubabah binti Al-Harits. Rasulullah menikahinya pada bulan Dzulqa'dah 7 H saat umrah qadha' setelah habis masa iddahnya.

Mereka inilah para wanita yang pernah dinikahi Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan beliau hidup bersama mereka. Ada dua orang diantara mereka yang meninggal dunia saat Rasulullah hidup, yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah, yang berarti Rasulullah meninggal dunia dengan meninggalkan sembilan lainnya menjadi janda.

Sedangkan dua wanita lainnya tidak hidup bersama Rasulullah, salah seorang diantaranya dari Bani Kilab dan satunya dari Kindah, yang dikenal dengan nama Al-Juwainiyah. Namun ada perbedaan pendapat mengenai masalah ini, tapi tidak akan dibahas disini.

Adapun wanita yang Rasulullah nikahi bukan sebagai wanita merdeka adalah Mariyah Al-Qibthiyah, yang dihadiahkan Al-Muqaiqis dan melahirkan putra bernama Ibrahim, namun kemudian meninggal dunia selagi masih kecil di Madinah semasa hidup Rasulullah, pada tanggal 28 atau 29 Syawwal 10 H, bertepatan dengan tanggal 27 Januari 632 M. Selain Mariyah, adalah Raihanah binti Zaid An-Nadhiriyah atau Al-Qurzhiyah, yang sebelumnya termasuk tawanan Quraizhah. Rasulullah memilihnya untuk dirinya sendiri. Ada yang berpendapat dia juga termasuk istri Rasulullah, yang dimerdekakan lalu dinikahi. Pendapat pertama ditegaskan Ibnul Qayyim. Sedangkan Abu Ubaidah menambahi dua wanita lainnya, yaitu Jamilah yang termasuk tawanan dan Jariyah yang dihadiahkan Zainab binti Jahsy kepada Rasulullah.

Siapapun yang mengamati kehidupan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam ini tentu mengetahui secara pasti bahwa perkawinan beliau dengan sekian banyak wanita ini, justru pada masa-masa akhir hidup beliau, setelah mewati 30 tahun dari masa muda beliau, yang pada masa itu hanya bertahan bersama wanita yang justru lebih tua, yaitu Khadijah, lalu Saudah. Tentu Rasulullah mengetahui bahwa perkawinan ini tidak sekedar didorong gejolak didalam diri dan mencari kepuasan dari sekian banyak wanita, tetapi disana ada berbagai tujuan yang hendak diraih dengan perkawinan tersebut.

Tujuan yang bisa dibaca, mengapa Rasulullah berbesan dengan Abu Bakar dan Umar, dengan menikahi Aisyah dan Hafshah, mengapa Rasulullah menikahkan Fathimah dengan Ali bin Abu Thalib, menikahkan Ruqayyah menyusul Ummu Kultsum (setelah Ruqayyah meninggal) dengan Utsman bin Affan, mengisyaratkan bahwa Rasulullah ingin menjalin hubungan yang benar-benar erat dengan empat orang tersebut, yang dikenal paling banyak berkorban untuk kepentingan Islam pada masa-masa kritis, yang berkata kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala akhirnya masa-masa kritis ini dapat dilewati dengan selamat.

Diantara tradisi bangsa Arab adalah menghormati hubungan perbesanan. Keluarga besan menurut mereka merupakan salah satu pintu untuk menjalin kedekatan antara beberapa suku yang berbeda. Menurut anggapan mereka, mencela dan memusuhi besan merupakan aib yang dapat mencoreng muka. Maka dengan menikahi beberapa wanita yang menjadi Ummahatul Mukminin, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam hendak mengenyahkan gambaran permusuhan beberapa kabilah terhadap Islam.

Setelah Ummu Salamah dari Bani Makhzum dinikahi Rasulullah yang satu perkampungan dengan Abu Jahl dan Khalid bin Walid, membuat sikap Khalid bin Walid tida ksegarang sikapnya sewaktu Perang Uhud. Bahkan akhirnya Khalid bin Walid masuk Islam tak lama setelah itu dengan penuh kesadaran dan ketaatan. Begitu pula Abu Sufyan yang tidak berani menghadap Rasulullah dengan permusuhan setelah Rasulullah menikahi putrinya, Ummu Habibah. Begitu pula yang terjadi dengan Bani Mushthaliq dan Bani Nadhir, yang tidak lagi melancarkan permusuhan setelah Rasulullah menikahi Juwairiyah dan Shafiyah. Bahkan Juwairiyah merupakan wanita yang paling banyak mendatangkan barakah bagi kaumnya. Setelah dia dinikahi Rasulullah, para sahabat membebaskan 100 keluarga dari kaumnya. Karena itu para sahabat saat itu berkata, "Mereka dalah para besan Rasulullah shallallahu'alaih wasallam." Tentu saja hal ini sangat mengundang simpati manusia dan berkesan di dalam jiwa.

Lebih besar dari itu, Nabi shallallahu'alaihi wasallam sudah diperintahkan untuk membersihkan dan memberdayakan manusia sebelaum mereka mengenal sedikit pun etika peradaban yang wajar dan bagaimana ikut andil dalam membangun masyarakat yang maju.

Prinsip-prinsip yang menjadi dasar untuk membangun masyarakat Islam, tidak memberikan peluang bagi kaum laki-laki untuk bercampur baur dengan kaum perempuan. Tidak mungkin memberdayakan kaum wanita seketika pada waktu itu pula, sementara pada saat yang sama prinsip ini sama sekali tidak boleh diabaikan. Padahal pemberdayaan kaum wanita tidak lebih sedikit daripada pemberdayaan kaum laki-laki, karena boleh dikatakan lebih kuat dan lebih dominan.

Maka tidak ada pilihan lagi bagi Rasulullah kecuali memilih beberapa wanita denga usia yang berbeda-beda dengan kelebihan masing-masing guna mewujudkan tujuan ini. Dengan begitu Rasulullah bisa membesihkan diri mereka, mendidik dan mengajarkan syariat dan hukum-hukum serta memberdayakan mereka dengan berbagai pengetahuan Islam. Lebih jauh lagi, Rasulullah bisa membekali mereka untuk mendidik para wanita di pedalaman yang masih Badui atau yang sudah beradab, yang tua maupun yang muda, sehingga mereka sudah cukup mewakili dakwa terhadap seluruh kaum wanita.
-----------------

Sumber: Buku Sirah Nabawiyah, karangan: Syaikh Shfiyyurrahman Al-Mubarakfuri, penerbit: Pustaka Al-Kautsar Jakarta.

Artikel: My Diary

Baca Juga:
- Mengapa Rasulullah Menikahi Zainab binti Jahsy?
- Kecerdasan Abu Hanifah
- Syi'ah Mencela Rasulullah
- Kisah Sahabat yang memuliakan Tamu Rasulullah
- 1 Kambing Menjadi 4000 Kambing
- Mujahidah Berbaju Besi
- Syi'ah Aneh Tapi Nyata
- Kisah Cerdiknya Seorang Pemuda yang Ikhlas