Selasa, 09 Juli 2013

Abdullah bin Saba'; Pendiri Syi'ah, Penebar FITNAH!!


Dalam lintasan sejarah Islam, nama Abdullah bin Saba' sudah tidak asing lagi. Sepak terjangnya sudah menjadi bagian kelam sejarah Islam. Aksi-aksinya yang sedemikian kotor telah membuat sebagian umat terjerebab ke jurang kenistaan.

Ia aktor intelektual rentetan kejadian fitnah antara enam tahun terakhir KhilafahUstman bin Affan sampai rentang terakhir Khilafah Ali bin Abu Thalib. Para sejarawan menyebutnya Ahdatsul Fitan. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Abdullah bin Saba' adalah seorang Yahudi penduduk Shana'a, Yaman. Ibunya bernama Sauda' sehingga ia sering dijuluki dengan Ibnu Sauda'.

Ia masuk Islam ketika masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan. Menantu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ini menggantikan posisi KHalifah Umar bin Khattab yang dibunuh oleh orang-orang munafik. Peristiwa tersebut mencekan dan bergejolak. Namun dengan ketegasan sikap dan kebijaksaannya, Khalifah Utsman bin Affan mampu mengendalikan keadaan dengan baik. Roda pemerintahan pun kembali aman seperti sediakala. Bahkan belum lama pemerintahannya, kehidupan masyarakat semakin sejahtera.

Kondisi seperti ini telah membuat penganut agama lain banyak yang tertarik masuk Islam. Salah satu dari mereka adalah seorang pemuda Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba'. Hanya saja, tujuan pemuda Yahudi masuk Islam ini tidak dibarengi dengan niat yang ikhlas. Ia mau menjadi Muslim karena punya tujuan tersembunyi, yaitu kehormatan.

Suatu ketika, ia minta izin mengahadap Khalifah Utsman. Setelah bertemu Khalifah, ia menyampaikan keinginannya agar diberi kedudukan tinggi di salah satu jabatan terpenting dalam bidang apa saja. Tetapi Khalifah manolak dan berkata: "Aku hanya seorang pelayang ummat. Aku diangkat menjadi Khalifah bukan atas keinginanku, tapi atas kesepakatan para sahabat yang lain." Khalifah melanjutkan: "Tidakkah saudara tahu bahwa jabatan bukanlah kehormatan tetapi amanah. Apakah saudara sanggup memikul amanah itu sedang saudara baru saja masuk Islam. Dan lebih dari itu tidak layak sesuatu kedudukan diminta. Allah lah yang memberi dan mencabut jabatan seseorang."

Mendengar pernyataan ini, Abdullah bin Saba' kecewa. Ia yang sudah bersusah payah memeluk Islam dan kemudian menempuh perjalanan yang jauh dengan harapan memperoleh pujian dan jabatan tinggi, ternyata hanya mendapat nasehat dan teguran. Sejak saat itu, ia menyimpan dendam kepada Khalifah, ummat Islam dan agama Islam. Ia bertekad menghancurkan ummat Islam dan mengacaukan ajarannya.

Fitnah Abdullah bin Saba'
Merasa harapannya tidak tercapai, mulailah ia merekayasa siasat untuk menjatuhkan pemerintahan Khulafaurrasyidin ke tiga ini. Di antar asiasat yang ia jalankan adalah menebar berita bahwa sesungguhnya pewaris dan Khalifah yang sah setelah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian, siapapun yang menjadi Khalifah saat itu berarti telah merampas kepemimpinan dari pemiliknya yang sah, yaitu Ali bin Abi Thalib. Dengan cara ini ia berharap karakter Khalifah Utsman jatuh.

Untuk mewujudkan siasatnya tersebut, ia mengkampanyekan pemikirannya dengan mengunjungi sentral kota-kota di masa itu. Hidupnya selalu berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya, dalam rangka menyebarkan dan menyusupkan pemahaman-pemahaman sesatnya. Ia pindah dari Hijaz, Bashrah, Kufah dan Syam. Namun di kota terakhir ini ia tidak berkutik. Penduduk setempat mengusirnya. Lantas ia pergi ke Mesir. Di negeri inilah ia menyemai pemahaman-pemahaman sesatnya dan berhasil mengelabui sebagian ummat sehingga terpropokasi. Ia melakukan korespondensi dengan orang-orang munafik. Banyak dari mereka yang perpedaya, kemudian mendukungnya.

Abdullah bin Saba' juga berhasil menancapkan semangat untuk memberontak dan tidak taat kepada pemerintahan Khalifah Utsman. Ia melakukan gerakan propaganda anti Utsman bin Affan. Masyarakat dihasut agar menentang pemerintah yang sah saat itu. Sebagian masyarakat terpengaruh dengan hasutan tersebut hingga mereka membuat sebuah kelompok yang dinamakan Syi'ah Saba'iyah. Kelompok inilah yang pada akhirnya berhasil menggulingkan pemerintahan Khalifah Utsman.

Fitnah dan api kebencian terhadapan pemerintah terus disebar oleh Abdullah bin Saba', shingga terjadilah gerakan demonstrasi besar-besaran terhadap pemerintahan Utsman. Melalui aksi provokasinya, sebagian ummat terpancing untuk melakukan aksi demonstrasi menentang Khalifah Utsman bin Affan. Bahkan mereka melakukan pengepungan di rumah Khalifah Utsman. Akhir dari peristiwa pengepungan tersebut, Utsman terbunuh saat membaca al-Qur'an.

Disebutkan dalam sejarah bahwa kampanye Abdullah bin Saba' tidak berhenti disitu. Detik terakhir Perang Unta (Perang Jamal) yang hampir saja berakhir di meja diplomasi, antra fraksi Ali dan fraksi Talhah, Zubair dan 'Aisyah, gagal karena provokasi pemuda Yahudi ini dah kronisnya sehingga terjadi pertumpahan darah di antara kaum Muslim sendiri. Tidak cukup disitu, ia juga membuat fitnah yang sangat berani dengan berkata; "Sesungguhnya yang menjadi Nabi pilihan Allah adalah Ali bin Abi Thalib. Hanya kebetulan waktu itu malaikat Jibril mengantuk sehingga wahyu Allah diberikan kepada Muhammad yang tidak berhak."

Mendengar berita ini, sahabat Ali bin Abi Thalib marah. Tatkala beliau diangkat menjadi Khalifah keempat menggantikan Khalifah Utsman bin Affan, Abdullah bin Saba' diusir dari Madinah. Meski diusir, Yahudi tengik asal Shana'a ini terus meniupkan racunnya ke dalam tubuh kaum Muslimin. Satu diantara sekian banyak racun ditebar di tubuh ummat, yaitu membangkitkan fanatisme buta terhadap keimaman Ali bin Abi Thalib. Lalu bergulir menjadi sebuah agidah (keyakinan) di kalangan Saba'iyah (para pengikut Abdullah bin Saba'), bahwa keimaman yang pertama dipegang oleh Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada Muhammad bin Al Husain Al Mahdi. Kalangan Syi'ah menyakini hal itu sebagai bentuk aqidatu ar-raj'ah. (Aqa'idu Asy Syi'ah, Asy-Syaikh Mahmud Abdulhamid Al-'Asqalani, hal 21)

Abil Hasan Ali bin Ahmad bin Hasan Ar-Razihi, dalam kitabnya, Taudhihu An-Naba'an Mu'assis Asy-Syi'ah Abdillah bin Saba' baina Aqlam Ahli As-Sunnah wa Asy-Syi'ah wa Ghairihim, mengomentari tentang Yahudi satu ini, "Secara lahiriah, di hadapan kaum Muslimin, dia menampilkan diri sebagai seorang yang bersosok keislaman. Namun sejatinya, apa yang meluncur dari lisan dan perbuatannya tak lebih dari seonggok kebid'ahan."

Abdullah bin Saba' difiktifkan.
Keberadaan Abdullah bin Saba' oleh kalangan Syi'ah dan tokoh Islam lIberal coba difiktifkan. Menurut mereka, tokoh satu ini memang sengaja diciptakan oleh musuh-musuh Syi'ah. Thaha Husain, tokoh Inkar Sunnah Mesir, mengatakan bahwa keberadaan Ibnu Saba' itu hasil rekayasa musuh-musuh Syi'ah.

Namun argumentasi Thaha ini dijawab oleh para ulama. Hasil kajian ulama menyebutkan bahwa bukan hanya sejarawan Sunni yang mengakui keberadaan Abdullah bin Saba'. Sejumlah tokoh Syi'ah yang diakui ke-tsiqah-annya oleh kaum Syi'ah juga mengakui keberadaan Abdullah bin Saba'. Sa'adal-Qummi, pakar fikih Syi'ah abad ke-3 misalnya, malah menyebutkan dengan rinci para pengikut Abdullah bin Saba', yang dikenal dengan sekte Saba'iyah. Dalam bukunya, al-Maqalat wa al-Firaq (hal 20), al Qummi menyebutkan, Abdullah bin Saba' adalah orang yang memunculkan ide untuk mencintai Sayyidina Ali secara berlebihan dan mencaci maki para sahabat Nabi lainnya, khususnya Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan.

Sumber: Majalah Suara Hidayatullah/April-2009/Rabi'ul Tsani 1430
----------------
Artikel : My Diary

Baca juga :
- Mut'ah dengan Putri Ulama Syi'ah menyebabkan kekal di neraka bersama iblis.
- Inilah petikan Ayat al-Qur'an di gerbang Harvard.
- Potret hinanya kaum wanita dimata Syi'ah.
- Teror Ulama Syi'ah bagi wanita yang tidak mau mereka mut'ah.
- Awas istri anda di larikan Syi'ah!!!!

2 komentar: